Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Monday, June 22, 2020


JEJAK JUJUR
Oleh: Saufi G bin Yusuf

Pagi ini hari ke dua puluh di bulan ke dua. Telah lewati tiga purnama engkau tak muncul di hadapanku. Bulan demi bulan telah menjadi ingatan mendalam. Bayangkan betapa ketakutan hati ini terus menjadi-jadi tak karuan.
Tak ada kabar yang pasti setelah engkau pergi. Kapan kau akan kembali hanya itu yang tercatat pada selembar daun yang jatuh pada sore sebelum matahari terbenam di sebelah rumahmu. Daun itu telah menguning, tak terpikir olehku waktu itu untuk mengawetkannya. Setidaknya ia menjadi saksi sejarah, kau pernah pergi, berjanji kembali.
Semalam, ketika aku mulai melupakan kisah yang pernah kita lakukan dalam perjalanan panjang penantian, aku tak bisa berhenti. Langkahku tak pernah tertahan. Tetap saja kau muncul entah dari mana.
Aku benci sesungguhnya mengenangmu. Menunggumu juga menjadi benci yang kedua, apalagi berharap lebih dari apa yang pernah kau janjikan dahulu, semakin mendalam rasa benci ini.
Benarkah kau akan kembali? Hingga hari ini kabarpun tak kau beri.
Rasanya sudah terlalu lama kau pergi. Meski menurut perhitungan kalender yang tergantung di dinding rumah dekat lemari buku berlalu sudah tiga bulan. Beginilah bila rindu itu telah menjadi-jadi. Tak ada waktu berbenah diri, hanya merenungi. Bukan merenungi untuk berbenah diri. Tapi merenung dan terus merenung kepergianmu. Duhai.
“Aku pergi. pasti akan kembali. Lihatlah daun yang gugur itu, ia menjadi saksi kita. Kelak aku kembali pada bulan ketiga tepat ditanggal yang sama sejak kepergianku” tanpa berurai air mata, dengan nada yang biasa, seolah tanpa cinta, kau berbicara lancar adanya.
Sementara aku tersedu, tertunduk, tak sanggup menatap wajahmu. Meskipun tanganmu terus menggenggam dan meremas tanganku. Kaku, tak sanggup mengatakan apapun.
Aku melepas kepergianmu, bersama doa beribu. Doa yang tertancap dalam hati, kuhamburkan saban hari hingga berganti hari lagi. Doa yang terus kulafalkan saban malam hingga matahari kembali ke peraduan. Tapi hingga bulan ini, secercah harapan akan kabar keberadaanmu tak kudapati.
Duhai, betapa tak sanggup hatiku ini.
Kau tahu ayah tak pernah setuju menjadikan kau sebagai separuh hatiku. Tapi ibu selalu meyakinkan.
“Bila cintamu tulus dari hati terdalam, yakinlah kelak siapapun itu, ia yang akan membawakan sekuntum bahagia, ia rawat bersama kesahajaan. Tak hanya dititipkan saja padamu bahagia itu, ia akan merawatnya bersamamu” Ibu tersenyum meluruhkan hati ini.
Ketika kepergianmu, lihatlah betapa marahnya ayah. Ia diam saja, tak banyak kata, bahkan menegurpun tidak, apalagi menegurmu. Aku tahu sifat ayah, bila marah, selalu begitu. Diam. Aku faham sekali.
Diam ayah semakin panjang, bulan ini telah kali kesekian aku menunggumu, sembari menatap daun-daun pada pohon kersen yang telah menguning, berguguran. Itulah penyebabnya, tak ada kabarmu.
Pantaskah aku menjadi pendampingmu, duhai? Aku terus berkeluh, tak pasti aku apakah kau sudah makan? Apakah kumismu masih selalu kau buat rapih dan tipis sebagaimana ketika kita bersama? Bagaimana dengan janggutmu? Atau kau tak sempat mengurus semua itu?
Dimanakah kau, duhai? Aku rindu. Sepotong doa saja rasanya tersendat kulantunkan, berdentum jantung ini bila melihat seolah bayangmu yang memeluk tadi malam. Tapi itu hanya mimpi.
Ayah tak pernah setuju. Tak setuju saat kunyatakan kau akan datang meminang, tapi ibu dengan kelembutan hatinya ia berhasil meyakinkan ayah. Kau datang, pernikahan kita ditentukan segera.
Tugas Negara memanggilmu, wahai duhai. Konflik di ujung pulau salah satu Negara kita menjadi tujuan penugasanmu. Tiga bulan kau berperang di sana. Aku khawatir, tak pernah dapat kabar darimu. Itulah mengapa ayah tak setuju. Tugas Negara tak akan pernah bisa dihindari. Bisa saja kau gugur kapan saja.
Tapi ibu selalu meyakinkan ayah.
Kematian bisa datang kapan saja, tak mengenal waktu dan tempat. Meskipun ia  sampai ke ujung dunia, kelak takdirnya kembali kepangkuan pertiwi, kembali juga ia. Meskipun di rumah atau bersembunyi kemanapun, tak akan sanggup ia melawan takdir Allah. Bila nyawa sudah ditakdirkan ditarik, tak siapapun dapat berlari” ibu meyakinkan ayah, tak ada kematian yang tak diatur waktunya oleh sang pemilik. Ayah luluh. Mengiyakan pernikahan kita.
Tepat seminggu pernikahan kita, kau pamit, bersama doaku, doa ibu, dan ayah yang berkomat-kamit dalam hati. Aku yakin, ia pasti mendoakan kau, anak menantunya. Tak kan ia berharap aku menjadi janda sebelum ia menutup mata. Setidaknya doalah yang bisa dibantu, katanya pada ibu.
Hari ini, tepat tiga bulan kepergianmu. Aku menunggu, bersama dzikir pagi menunggu dadamu untuk kurebahkan kepala yang terus berdenyut-denyut dari malam tadi. Sejak mendapat kabar dari pak Agus kau dan tim akan segera kembali. Aku berharap kau salah satunya.
Sayangnya pak Agus juga tak bisa memastikan siapa saja yang dapat pulang dengan selamat. Sebagian besar telah gugur di medan perang. Melawan para pengacau keamanan Negara.
Suamiku mati. Ia tak kembali.
Ia, suamiku mati. Ia tak kembali. Seluruh daun kersen telah berguguran dari batangnya. Seluruh ketakutanku menyatu bersama kekhawatiran ayahku. Tak ada pula mereka membawa mayatmu. Tak ditemukan mereka mayatmu.
Aku menjerit, sejadi-jadinya.
*
Hari ini tepat 19 tahun yang lalu, aku hanya bisa menjiarahi makammu lewat hamburan doa. Bersama Jujur, anak kita, setelah tahajjud sendu. Ia namanya Jujur, Jujur Purnomo. Aku tak menyangka kepergianmu justru membawa kehidupan baru. Dia anakmu. Jujur. Wajahnya persis sepertimu. Prilakunya sepertimu.
Ia baru tamat dari SMA, beberapa kali mewakili sekolahnya menjadi atlit karate berprestasi. Pernah menjadi salah seorang yang ikut mengibarkan bendera pada hari kemerdekaan di istana Negara. Cita-citanya satu. Ingin sepertimu. Membela Negara ini. Aku senyum, getir. Tapi tak melumpuhkan aku dalam membesarkannya.
Lihatlah, sejak kelas empat sekolah dasar, aku sudah melihat bakat kemandiriannya. Ia bisa membawa kembali uang jajannya tetap utuh, bahkan bertambah. Aku khawatir ia mencuri, atau melakukan kecurangan. Tidak. Ia berjualan. Membantu nenek-nenek kantin tukang lontong yang ada di sekolah. Nenek itu berjualan sendiri. Tapi selalu ramai teman-teman dari kelas satu sampai enam belanja di tempatnya. Meskipun ada kantin-kantin lain di sebelahnya.
Nenek itu kewalahan katanya. Ia menawarkan diri. Boleh dibantu nek, itu ceritanya padaku. Kau tahu, aku baru saja baru mengetahuinya saat akan mencuci baju sekolahnya. Kutemukan di kantongnya sejumlah uang yang berjumlah sepuluh kali lipat dari jumlah uang jajannya. Ia baru saja menerima uang arisan kelas. Ia selalu menabung di kelas. Dari nenek kantin ia mendapat uang jajan tambahan beserta sepiring lontong saban harinya. Ia mandiri. Sepertimu, ketika tak ada yang setuju kau akan jadi tentara, kau tetap ngotot. Kau hanya minta doa saja dari ayah ibumu. Dan kau membuktikan itu.
Begitu pun anakmu, Jujur. Sejak kelas 4 sudah mandiri, uang jajan yang kadang kuberi, dan lebih banyak tidak. Tak pernah ia berkomentar. Tak pernah dia menuntut apapun. Tak pernah ia meminta dibelikan sepatu baru. Meskipun tapak kaki sepatu telah terbelah. Meskipun kaus kaki selalu diikat karet agar tak melar saat dipakai. Tak pernah. Ia anakmu. Sepertimu. Itu yang dulu membuat aku jatuh cinta padamu.
Hari ini ia akan melamar menjadi tentara sepertimu. Ada pembukaan pendaftaran. Fisiknya yang cukup, kecerdasanya yang sungguh baik, mungkin bisa menjadi modalnya. Aku yakin, ia pasti bisa. Seperti dirimu. Meskipun hati ini risau. Risau ia mengikuti jejakmu, risau mendengar kata tetangga. Bila aku tak punya uang yang banyak, tak punya tanah yang bisa dijual, Jujur tak akan lulus menjadi tentara.
Tidak, aku menampar risau itu. Meskipun telah 19 tahun berlalu, jiwaku ada padanya, semangatmu juga ada padanya. Aku selalu ingat pesanmu, hidup yang baik itu harus selalu jujur, meskipun kita tak mampu. Jangan memaksakan diri. Ketika kau bercerita tentang masa-masa sedang ikut proses seleksi menjadi tentara, kau bilang tak pernah ada kekuatan yang dapat membantu selain kekuatan Allah. Yakinlah, hanya bersama Allah kita pasti bisa, katamu.
Kau membuktikannya. Dengan kemampuanmu tak sepeserpun dana yang kau keluarkan agar kau lulus menjadi tamtama. Semua kau lakukan dengan kemampuanmu, dengan kelebihan yang diberikan Allah padamu. Hari ini aku terus meyakinkan Jujur.
“Jangan dengar apapun kata orang, bila tekadmu sudah kuat, kudoakan engkau mendapatkan yang terbaik” Jujur hanya tersenyum. Manis. Seperti senyummu. Selalu meluluhkan dan merampas air mataku bila melihat senyum anakmu. Persi sepertimu.
Kau tahu, Jujur sudah sangat mandiri sekarang. Ia hanya meminta restu dariku. Aku tak perlu khawatir katanya.
“Bila Jujur lulus itu takdir dari Allah, bila tidak itu juga takdir, mungkin Allah mau memberikan jalan lain yang terbaik untuk kita, Mamak doakan saja Jujur” Itu katanya sembari menyium pipiku. Aku terenyuh.
Betapa setiap tetesan keringat ini selalu kujadikan doa, untuk perjalanan panjang kehidupan aku dan anakmu. Tak mau pasrah dengan keadaan. Tak boleh mundur dari dunia hanya masalah tak makan. Atau tak ada tempat berteduh. Aku selalu menghamburkan doa untuk menjadi Ibu dan istri yang dapat mengumpulkan kita di syurga kelak.
Aku rindu engkau, biarlah doaku khusus untukmu agar kita berkumpul di sana kelak. Akan kuceritakan banyak hal tentang anak kita. Akan kubawa ia, dan memperkenalkannya pada ayahnya yang tak pernah ia temukan sejak kelahiran di dunia.
Aku terhenyak.
Anakmu tak lulus pada seleksi tahap kedua. Ia kembali ke rumah yang sudah reot ini. Kusambut hangat dan kupeluk. Ia tetap tersenyum, menganggap semuanya tanpa beban. Aku hanya bisa mengelus punggungnya.
Kepulangannya dari mengikuti seleksi tentara menjadi bahan gunjingan para wanita tua tetangga kita. Mereka tak menggunjing anak kita, tapi menggunjing anak orang yang telah lulus menjadi tentara.
“Sudah kubilang, jangan kau paksakan diri mendaftarkan dia menjadi tentara. Tak ada uang, tak akan lulus anakmu itu” wanita tua berwajah mulus berpipi tembem mencolek aku saat akan bersiap menjual pisang coklat yang akan kubawa ke pasar.
“Jangan memaksakan diri, syukuri saja apa yang ada, hanya orang-orang yang berada saja yang bisa menjadi tentara itu, anak bu Har saja menjadi tentara telah banyak menguras hartanya. Anaknya lulus, tapi ladangnya yang di kampung harus dijual habis” Wanita tua kedua yang tak bersuami berdiri di depan gubukku saat aku sedang menjemur pakaian. Aku hanya tersenyum. Tak berguna memperdebatkan apapun pada mereka. Hanya membuat rasa jiwaku merana. Aku tak perlu peduli dengan apa yang mereka cakapkan, dan tak perlu tahu benar atau tidaknya.
Anakmu malah lebih kuat dariku. Meski setiap pagi ia selalu mendengar gunjingan itu, sepanjang satu bulan setelah proses seleksi mengikuti untuk menjadi tentara, ia tetap tersenyum. Ia tetap permisi, lagi ada kerjaan kecil yang bisa menghasilkan uang katanya.
Aku tak bertanya, aku khawatir ia tersinggung bila kutanya apa yang dia kerjakan, dimana, bersama siapa. Karena aku yakin dia sudah sangat mandiri dan dewasa. Meskipun baru Sembilan belas tahun usianya, baru tamat SMA.
Aku hanya tahu ia pulang dengan selamat, membawakan aku buah tangan berupa bahan-bahan yang dapat kuolah di dapur kita. Tak banyak, tapi itu sangat lebih dari cukup bila dibandingkan penghasilan dari perjuangan keseharianku menjual pisang coklat yang kuambil dari ibu Ila, pengusaha pisang coklat itu.
Aku yakin, kejujuran yang dulu kau ajarkan padaku, saban hari kutunjukkan padanya. Aku yakin, ia tak akan berbohong, sekalipun.

Rumah Azka, Siumbut-Umbut. Maret-April 2020

 Saufi Ginting bin Muhammad Yusuf Ginting. Lahir dan besar di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumut. Pegiat literasi. Pendiri Taman Baca Masyarakat Azka Gemilang, Komunitas Penulis Muda Asahan, dan penerbit buku Ber-ISBN. Peraih Anugerah Pegiat Literasi 2018 dari Balai Bahasa Sumut Upt Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Terbit di Asahan Pos, 8 Juni 2020






Wednesday, May 22, 2013

DL. 30 JUNI 2013, JUARA 1, RP 1.000.000


LOMBA MENULIS CERPEN DAN PUISI  
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1434 H sekaligus memperkenalkan Presidium Alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Asahan, Presidium Alumni IPM Asahan mengadakan lomba menulis cerpen dan puisi tingkat nasional. Lomba ini diadakan dengan tujuan untuk mengasah kreativitas Remaja dan Pemuda  dalam dunia tulis-menulis fiksi, sekaligus mengingatkan remaja Islam untuk bersiap menghadapi Ramadhan.
Syarat Pendaftaran
  • Peserta bebas
  • Tema cerpen dan puisi bebas tapi harus Islami
  • Belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun, baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun media sosial.
  • Tidak sedang diikutkan dalam perlombaan serupa.
  • Cerpen ditulis dengan mengutamakan penggunaan EYD.
  • Karya asli penulis, bukan karya orang lain, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
  •  Diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 3 cm untuk batas atas, bawah, kiri dan kanan.
  • Cerpen maksimal 5 halaman, dan puisi maksimal 2 halaman
  • Mencantumkan nama penulis dan biodata narasi maksimal seratus kata pada bagian akhir naskah.
  • Kirim karya melalui lampiran ke alamat email: 
presidiumipmasahan@yahoo.co.id
  • Judul/Subjek email tulis: CIPMAS_Judul cerpen_Nama Penulis. (untuk Cerpen), dan CIPMAS_Judul puisi_Nama Penulis (untuk puisi)
  • Atau diantar langsung ke
Citra, A.Md.
Komplek Perguruan Muhammadiyah Mutiara
Jl. Madong Lubis Kelurahan Selawan Kab. Asahan Provinsi Sumatera Utara 21223 (sertakan juga softcopy)
·         Naskah diterima oleh panitia selambatnya 30 Juni 2013 pukul 23.59
·        Pengumuman pemenang akan disampaikan di Facebook http://www.facebook.com/groups/589746961049751/ pada 8 Juli 2013
Hadiah
  • Total Hadiah Rp 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah)
  • Juara I uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
  • Juara II uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
  • Juara II uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
  • Juara IV – XV, mendapat buku antologi.
Catatan:
  • Pemenang puisi berbeda dengan Pemenang cerpen,  tapi antologi akan diterbitkan secara nasional dalam satu buku.

Biaya Pendaftaran
  • Rp 15.000,-/Naskah
Melalui Transfer
Rekening Bank BRI Cab,Kisaran
No. Rekening :
0323-01-019165-50-2
An. M. SAUFI GINTING
Bukti Transfer di scan dan di kirim ke email:presidiumipmasahan@yahoo.co.id
Ketentuan Mengikat
Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat. Panitia tidak melayani surat-menyurat.Dewan juri berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat). Hak cipta tetap ada pada penulis, sedangkan panitia memiliki hak untuk mempublikasikannya.
Dewan Juri
·        Muhammad Saufi Ginting, M. Hum., (Penggiat Sastra, Pendiri Rumah Baca Azka, Ketua Presidium Alumni IPM Asahan)
·        Rizky Susti Ningrum S.Si (Anggota FLP Bogor)
·        Halimah, S.Th.I (Mantan Jurnalis Serambi Indonesia, Aceh)
Nomor Kontak
HP. 0852-2828-5528 (Citra)
       0852-6101-1688 (Saufi)

Tuesday, December 18, 2012

MEMBASUH INDAH


MEMBASUH INDAH
Oleh: Muhammad Saufi Ginting

Ada sungai mengalir di hati
Meneduhkan jiwa-jiwa yang merindui
Sejenak membasuh resah pada lelah yang tak henti
Tak lekang lesap keindahan menelusuri
Agh..masih saja belum mampu segenap raga mensyukuri
Padahal engkau gagah dengan segala takdir yang menyusur di sudut-sudut hati

Pun meski tergoncang tak surut berpantang
Melewati ratusan, ribuan, dan jutaan halang
Tetap menjadi pedoman dalam menuntaskan kehidupan
Setidaknya, kuingin ragaku tertanam tak pindah dari tanahmu yang dalam
Menjagamu lewat rumah-rumah keabadian
Menjadi sajak padamu negeri yang berpedoman
Menjadi cerita panutan generasi penghujung zaman
Mencatatkan sejarah bahwa kita bukan bangsa sembarang

Mari membasuh indah bersama tangan tuhan
Meluapkan pertikaian dan kekacauan
Di sini kita jejakkan kaki tanpa beban dan penuh kearifan
Menjadikan sungai-sungai seperti kitab suci yang mencatatkan

Rumah Azka-Kisaran, 01 Agustus 2012

Monday, April 16, 2012

CERPEN


UNTUK SENYUM ANAKKU
Oleh: Halimah Saufi

            “Bagaimana Dek? Sudah turun panasnya?” Tanya suamiku di sore yang terasa lebih panas dari biasanya ini sambil menghirup kopi yang kusuguhkan untuk menyambutnya pulang kerja.
            “Belum Bang.” Jawabku sambil duduk disampingnya.
            “Adek masih punya uang berapa?” Tanya suamiku lagi.
            “Maaf Bang. Tinggal dua puluh ribu lagi. Tadi pagi Alul minta untuk membeli buku tulis empat buah dan sebuah buku gambar. Katanya sudah habis. Jadi uang sisa yang ada, adek belikan untuk keperluannya sekolah.” Jawabku lagi seraya menjelaskan. Aku tidak ingin dikatakan boros dan menggunakan uang belanja untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Kulihat suamiku hanya mengguk-anggukkan kepala sambil menyeruput kopi yang kusuguhkan kepadanya. Kami sama-sama terdiam.
Sudah dua hari anakku yang ke dua, kahfi, yang baru berumur Sembilan bulan terserang demam. Sebagai ibunya tentu aku sangat khawatir. Untuk membawanya berobat kedokter spesialis, jujur saja, aku tidak berani. Aku hanya membawanya berobat ke bidan desa. Bukan aku tidak mau ataupun takut. Tetapi dengan gaji suamiku yang cuma seorang guru honor di sekolah swasta itu tidak mungkin. Walaupun ia mengajar dari pagi hingga sore hari dengan jam penuh dari Senin hingga sabtu. Gaji yang diterimanya setiap bulan sungguh sangat tidak mencukupi untuk semua kebutuhan kami. Uang yang diberikannya setiap habis gajian langsung aku pos-poskan kesemua amplop kebutuhan kami. Seperti membayar rekening listrik, rekening air, sewa rumah, dan belanja kebutuhan sehari-hari. Itupun sudah sangat ku hemat. Belum lagi cicilan sepeda motor kami. Sehingga bila ada hal-hal tak terduga seperti ini, aku sangat ngos-ngosan sekali memikirkannya.
###
            Malam telah larut. Kulirik jam beker yang sudah tidak bisa berbunyi lagi, kado pernikahan kami sembilan tahun yang lalu sudah pukul setengah tiga pagi. Tapi mataku masih tidak dapat terpejam. Aku meraba kening Kahfi dan sekujur tubuhnya. Panasnya masih belum turun. Dan sekali-kali ia terdengar merintih kesakitan. Aku hanya bisa mengompresnya dengan air hangat sambil bermunajat terus pada Allah untuk kesembuhan anak kami.
            “Masih panas juga Dek?” Tanya suamiku tiba-tiba sambil memegang kepala Kahfi. Mungkin ia terbangun mendengar rengekan Kahfi.
            “Iya Bang.” Jawabku singkat. Karena tanpa kujawab pun ia pasti tahu dari memegang kepala Kahfi.
            “Besok pagi, sebelum abang berangkat mengajar, kita bawa Kahfi ke dokter Spesialis ya.” Katanya sambil menatapku.
            “Biayanya?” Tanyaku bingung. Lalu kami sama-sama terdiam.
            “Tabungan Abang masih ada.” Kata suamiku kemudian. Memecahkan kesunyian diantara kami.
            “Tabungan yang mana?” Tanyaku penuh selidik. Karena aku begitu sangat tahu sekali dengan pemasukan suamiku. Dia tidak mungkin punya uang. Apalagi tabungan. Itu sangat tidak mungkin.
            “Sudahlah, jangan difikirkan sekarang. Besok pagi kita bawa Kahfi ke dokter.” Kata suamiku yang mungkin mengetahui isi hati dan fikiranku.
            “Tidurlah.” Katanya kemudian.
            “Adek belum ngantuk Bang”. Kataku yang tidak mungkin bisa tidur melihat keadaan Kahfi seperti ini.
            “Kahfi biar Abang yang jaga. Sudah tiga malam Adek kurang tidur. Nanti malah ikut tumbang. Siapa yang akan menjaga kami?” Katanya lagi sambil membelai kepalaku dengan hangat.
            “Tapi jangan lupa Shalat Lail dulu ya.” Katanya dan kusambut dengan anggukan. Karena walaupun kehidupan ekonomi kami pas-pasan, kami tidak ingin rohani kami juga hidup pas-pasan. Allah lah tempat kembalinya sesuatu itu. Tempat kami bisa berbicara dan mengadu dengan beban dan gejolak hati.
###
            Pagi ini setelah shalat subuh, aku cepat-cepat bergegas membersihkan rumah dan membuat sarapan untuk suamiku dan Alul yang akan berangkat sekolah. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Karena kulihat Kahfi tidur dengan pulas. Panasnya sudah turun. Ia juga tidak merengek-rengek lagi. Aku benar-benar bahagia.
            “Bang, terimakasih ya.” Kataku pada suamiku yang telah siap-siap berangkat mengajar.
            “Untuk apa?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi tidak mengerti.
            “Sudah memberikan anak kita tabungan Abang untuk berobat.” Jawabku menjelaskan. Kemudian aku melanjutkan “Kalau Adek boleh tahu, uang untuk berobat Kahfi semalam dari tabungan abang yang mana?” tanyaku ingin tahu sambil memegang jari-jarinya dengan lembut. Bukan aku tidak percaya, tapi uang berobat Kahfi ke dokter spesialis kemarin sangat besar, tiga ratus lima puluh ribu. Rasanya aku tidak pernah mengetahui suamiku menyimpan uang. Semua gajinya telah diserahkannya padaku. Jadi aku sebagai istri rasanya ingin tahu uang itu darimana. Aku tidak ingin suamiku terlibat dengan rentenir.
            Mengerti dengan kegalauan hatiku. Suamiku gentian meremas jari-jari tanganku dengan lembut. “Adek jangan khawatir. Uang yang kita gunakan untuk berobat Kahfi adalah uang halal.”
            “Tapi dari mana bang?” tanyaku lagi masih dengan nada penuh ingin tahu.
            “Kan sudah Abang bilang dari tabungan Abang, sayang.” Jawabnya dengan nada tenang.
            “Tabungan yang mana Bang?” Tanyaku lagi karena tidak puas dengan jawabannya.
            Sambil menarik nafas dalam dan semakin erat menggenggam jari-jari tanganku iapun akhirnya menjelaskan tentang uang tabungannya itu yang sebenarnya adalah uang dari menggadaikan surat-surat sepeda motor kami kepada teman dekatnya. Ternyata sudah dua bulan yang lalu sepeda motor itu cicilannya lunas. Ia tidak tega melihat aku setiap hari meneteskan air mata untuk menangisi keadaan Kahfi. Jadi sehabis shalat magrib kemarin, ia langsung ke rumah teman dekatnya yang memiliki toko buku untuk menggadaikan surat-surat itu tanpa bertanya dulu kepadaku. Karena bila ditanyakan aku pasti tidak akan mengijinkan.
Penjelasannya yang panjang lebar membuatku menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi bahagia sekali karena telah diberikan seorang suami yang begitu menyayangi kami. Apa yang dilakukannya sangat berharga. Semua itu demi senyum anakku. Senyum anak kami. Pemberian Allah yang sangat berharga sekali. Terimakasih ya Allah untuk karuniamu ini.
Kisaran, 4 Januari 2012

Halimah Saufi, mantan jurnalis harian Serambi Indonesia, Aceh, dan alumni PW. IPM Sumut. Saat ini aktif sebagai anggota Leutika Reading Society (LRS) Chapter Asahan.






Sunday, April 1, 2012

CERPEN ISTRIKU


UNTUK SENYUM ANAKKU
Oleh: Halimah Saufi
            “Bagaimana Dek? Sudah turun panasnya?” Tanya suamiku di sore yang terasa lebih panas dari biasanya ini sambil menghirup kopi yang kusuguhkan untuk menyambutnya pulang kerja.
            “Belum Bang.” Jawabku sambil duduk disampingnya.
            “Adek masih punya uang berapa?” Tanya suamiku lagi.
            “Maaf Bang. Tinggal dua puluh ribu lagi. Tadi pagi Alul minta untuk membeli buku tulis empat buah dan sebuah buku gambar. Katanya sudah habis. Jadi uang sisa yang ada, adek belikan untuk keperluannya sekolah.” Jawabku lagi seraya menjelaskan. Aku tidak ingin dikatakan boros dan menggunakan uang belanja untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Kulihat suamiku hanya mengguk-anggukkan kepala sambil menyeruput kopi yang kusuguhkan kepadanya. Kami sama-sama terdiam.
Sudah dua hari anakku yang ke dua, kahfi, yang baru berumur Sembilan bulan terserang demam. Sebagai ibunya tentu aku sangat khawatir. Untuk membawanya berobat kedokter spesialis, jujur saja, aku tidak berani. Aku hanya membawanya berobat ke bidan desa. Bukan aku tidak mau ataupun takut. Tetapi dengan gaji suamiku yang cuma seorang guru honor di sekolah swasta itu tidak mungkin. Walaupun ia mengajar dari pagi hingga sore hari dengan jam penuh dari Senin hingga sabtu. Gaji yang diterimanya setiap bulan sungguh sangat tidak mencukupi untuk semua kebutuhan kami. Uang yang diberikannya setiap habis gajian langsung aku pos-poskan kesemua amplop kebutuhan kami. Seperti membayar rekening listrik, rekening air, sewa rumah, dan belanja kebutuhan sehari-hari. Itupun sudah sangat ku hemat. Belum lagi cicilan sepeda motor kami. Sehingga bila ada hal-hal tak terduga seperti ini, aku sangat ngos-ngosan sekali memikirkannya.
###
            Malam telah larut. Kulirik jam beker yang sudah tidak bisa berbunyi lagi, kado pernikahan kami sembilan tahun yang lalu sudah pukul setengah tiga pagi. Tapi mataku masih tidak dapat terpejam. Aku meraba kening Kahfi dan sekujur tubuhnya. Panasnya masih belum turun. Dan sekali-kali ia terdengar merintih kesakitan. Aku hanya bisa mengompresnya dengan air hangat sambil bermunajat terus pada Allah untuk kesembuhan anak kami.
            “Masih panas juga Dek?” Tanya suamiku tiba-tiba sambil memegang kepala Kahfi. Mungkin ia terbangun mendengar rengekan Kahfi.
            “Iya Bang.” Jawabku singkat. Karena tanpa kujawab pun ia pasti tahu dari memegang kepala Kahfi.
            “Besok pagi, sebelum abang berangkat mengajar, kita bawa Kahfi ke dokter Spesialis ya.” Katanya sambil menatapku.
            “Biayanya?” Tanyaku bingung. Lalu kami sama-sama terdiam.
            “Tabungan Abang masih ada.” Kata suamiku kemudian. Memecahkan kesunyian diantara kami.
            “Tabungan yang mana?” Tanyaku penuh selidik. Karena aku begitu sangat tahu sekali dengan pemasukan suamiku. Dia tidak mungkin punya uang. Apalagi tabungan. Itu sangat tidak mungkin.
            “Sudahlah, jangan difikirkan sekarang. Besok pagi kita bawa Kahfi ke dokter.” Kata suamiku yang mungkin mengetahui isi hati dan fikiranku.
            “Tidurlah.” Katanya kemudian.
            “Adek belum ngantuk Bang”. Kataku yang tidak mungkin bisa tidur melihat keadaan Kahfi seperti ini.
            “Kahfi biar Abang yang jaga. Sudah tiga malam Adek kurang tidur. Nanti malah ikut tumbang. Siapa yang akan menjaga kami?” Katanya lagi sambil membelai kepalaku dengan hangat.
            “Tapi jangan lupa Shalat Lail dulu ya.” Katanya dan kusambut dengan anggukan. Karena walaupun kehidupan ekonomi kami pas-pasan, kami tidak ingin rohani kami juga hidup pas-pasan. Allah lah tempat kembalinya sesuatu itu. Tempat kami bisa berbicara dan mengadu dengan beban dan gejolak hati.
###
            Pagi ini setelah shalat subuh, aku cepat-cepat bergegas membersihkan rumah dan membuat sarapan untuk suamiku dan Alul yang akan berangkat sekolah. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Karena kulihat Kahfi tidur dengan pulas. Panasnya sudah turun. Ia juga tidak merengek-rengek lagi. Aku benar-benar bahagia.
            “Bang, terimakasih ya.” Kataku pada suamiku yang telah siap-siap berangkat mengajar.
            “Untuk apa?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi tidak mengerti.
            “Sudah memberikan anak kita tabungan Abang untuk berobat.” Jawabku menjelaskan. Kemudian aku melanjutkan “Kalau Adek boleh tahu, uang untuk berobat Kahfi semalam dari tabungan abang yang mana?” tanyaku ingin tahu sambil memegang jari-jarinya dengan lembut. Bukan aku tidak percaya, tapi uang berobat Kahfi ke dokter spesialis kemarin sangat besar, tiga ratus lima puluh ribu. Rasanya aku tidak pernah mengetahui suamiku menyimpan uang. Semua gajinya telah diserahkannya padaku. Jadi aku sebagai istri rasanya ingin tahu uang itu darimana. Aku tidak ingin suamiku terlibat dengan rentenir.
            Mengerti dengan kegalauan hatiku. Suamiku gentian meremas jari-jari tanganku dengan lembut. “Adek jangan khawatir. Uang yang kita gunakan untuk berobat Kahfi adalah uang halal.”
            “Tapi dari mana bang?” tanyaku lagi masih dengan nada penuh ingin tahu.
            “Kan sudah Abang bilang dari tabungan Abang, sayang.” Jawabnya dengan nada tenang.
            “Tabungan yang mana Bang?” Tanyaku lagi karena tidak puas dengan jawabannya.
            Sambil menarik nafas dalam dan semakin erat menggenggam jari-jari tanganku iapun akhirnya menjelaskan tentang uang tabungannya itu yang sebenarnya adalah uang dari menggadaikan surat-surat sepeda motor kami kepada teman dekatnya. Ternyata sudah dua bulan yang lalu sepeda motor itu cicilannya lunas. Ia tidak tega melihat aku setiap hari meneteskan air mata untuk menangisi keadaan Kahfi. Jadi sehabis shalat magrib kemarin, ia langsung ke rumah teman dekatnya yang memiliki toko buku untuk menggadaikan surat-surat itu tanpa bertanya dulu kepadaku. Karena bila ditanyakan aku pasti tidak akan mengijinkan.
Penjelasannya yang panjang lebar membuatku menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi bahagia sekali karena telah diberikan seorang suami yang begitu menyayangi kami. Apa yang dilakukannya sangat berharga. Semua itu demi senyum anakku. Senyum anak kami. Pemberian Allah yang sangat berharga sekali. Terimakasih ya Allah untuk karuniamu ini.
Kisaran, 4 Januari 2012
Halimah Saufi, mantan jurnalis harian Serambi Indonesia, Aceh, dan alumni PW. IPM Sumut. Saat ini aktif sebagai anggota Leutika Reading Society (LRS) Chapter Asahan.