Ini buku antologi puisi saya dengan 119 penyair lainnya se Indonesia ISBN 978-602-17600-8-6.
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Sunday, July 28, 2013
Wednesday, May 22, 2013
DL. 30 JUNI 2013, JUARA 1, RP 1.000.000
LOMBA MENULIS CERPEN
DAN PUISI
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1434 H
sekaligus memperkenalkan Presidium Alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah
(IPM) Asahan, Presidium Alumni IPM Asahan mengadakan lomba menulis cerpen dan puisi tingkat nasional.
Lomba ini diadakan dengan tujuan untuk mengasah kreativitas Remaja dan
Pemuda dalam dunia tulis-menulis fiksi,
sekaligus mengingatkan remaja Islam untuk bersiap menghadapi Ramadhan.
Syarat Pendaftaran
- Peserta
bebas
- Tema
cerpen dan puisi bebas tapi harus Islami
- Belum
pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun, baik sebagian maupun
seluruhnya, baik di media cetak maupun media sosial.
- Tidak
sedang diikutkan dalam perlombaan serupa.
- Cerpen ditulis dengan mengutamakan
penggunaan EYD.
- Karya asli penulis, bukan karya
orang lain, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
- Diketik dengan menggunakan huruf Times
New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 3 cm untuk
batas atas, bawah, kiri dan kanan.
- Cerpen maksimal 5 halaman, dan
puisi maksimal 2 halaman
- Mencantumkan nama penulis dan
biodata narasi maksimal seratus kata pada bagian akhir naskah.
- Kirim karya melalui lampiran ke alamat
email:
presidiumipmasahan@yahoo.co.id
- Judul/Subjek email tulis:
CIPMAS_Judul cerpen_Nama Penulis. (untuk Cerpen), dan CIPMAS_Judul puisi_Nama
Penulis (untuk puisi)
- Atau diantar langsung ke
Citra, A.Md.
Komplek
Perguruan Muhammadiyah Mutiara
Jl. Madong
Lubis Kelurahan Selawan Kab. Asahan Provinsi Sumatera Utara 21223
(sertakan juga softcopy)
·
Naskah diterima oleh panitia selambatnya 30 Juni 2013 pukul 23.59
·
Pengumuman pemenang akan disampaikan di Facebook http://www.facebook.com/groups/589746961049751/ pada 8 Juli 2013
Hadiah
- Total
Hadiah Rp 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah)
- Juara
I uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
- Juara
II uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
- Juara
II uang tunai + 1 buku antologi hasil lomba + sertifikat.
- Juara
IV – XV, mendapat buku antologi.
Catatan:
- Pemenang
puisi berbeda dengan Pemenang cerpen,
tapi antologi akan diterbitkan secara nasional dalam satu buku.
Biaya Pendaftaran
- Rp 15.000,-/Naskah
Melalui Transfer
An. M.
SAUFI GINTING
Bukti Transfer di scan dan di kirim ke email:presidiumipmasahan@yahoo.co.id
Bukti Transfer di scan dan di kirim ke email:presidiumipmasahan@yahoo.co.id
Ketentuan Mengikat
Keputusan dewan juri tidak bisa
diganggu gugat. Panitia tidak melayani surat-menyurat.Dewan juri berhak membatalkan
keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar
karya cipta orang lain (plagiat). Hak cipta tetap ada pada penulis, sedangkan
panitia memiliki hak untuk mempublikasikannya.
Dewan Juri
·
Muhammad
Saufi Ginting, M. Hum., (Penggiat Sastra, Pendiri Rumah Baca Azka, Ketua
Presidium Alumni IPM Asahan)
·
Rizky
Susti Ningrum S.Si (Anggota FLP Bogor)
·
Halimah,
S.Th.I (Mantan Jurnalis Serambi Indonesia, Aceh)
Nomor Kontak
HP. 0852-2828-5528 (Citra)
0852-6101-1688 (Saufi)
Saturday, May 11, 2013
PELUH
-Muhammad Saufi Ginting-
Tak
ada salahnya, bila peluh berucucuran menyisakan basah
Sebab
di sana ada usaha yang tercipta
Menyusun
rindu menghapus resah
Melalui
remah-remah kebajikan yang sederhana
Menjanjikan
syurga
Apa
lantas ketika peluh mengalir kau anggap dusta?
Sekedar
mengigatkan masih banyak hati yang menjunjung takwa
Jangan
meghardik tak tentu rimba
Sebab
cinta beragam wujudnya
Janganlah
begitu!
Masih
banyak usaha yang teriring doa
Tak
mengeluh pada dunia
Sebab
meyakini Tuhan masih dengan segala maha
Apakah
peluh mesti meninggalkan luka-luka yang menganga?
Janganlah
begitu!
Sebab
iman tak seorang saja pemiliknya
Hanya
tak hendak terendus media
Maka
jangan samakan kadar ketakwaannya
Bukan
pula sebagian itu sama dengan sebagian yang lainnya
Dan
bukan pula yang dipelintir itu sama dengan yang lurus adanya
Marilah
sedikit berbijak sangka
Sebab
peluh-peluh itu tak mesti sama hasilnya
Rumah
Azka-Kisaran, 6 September 2012
Friday, January 4, 2013
Sebelum Gelap
SEBELUM GELAP
Ada
seutas rindu yang kuikat
Pada
atap-atap yang kuharap jadi keramat
Kurangkai
dengan kata puitis sebagai perekat
Dan
tak akan kubiar termakan karat
Ada
mimpi yang kucipta menjelang lelap
Semoga
tak hilang sebelum gelap
Dan
menjadi pelita pada harap
Dekat
dan tak lenyap
Kisaran,
13 Mei 2012
Wednesday, January 2, 2013
Teknologi
TEKNOLOGI
Ada sebuah puisi yang tercipta
Pada kicau burung berlistrik di gedung tinggi
Sekedar mencatat ingat
Hari, tanggal, bulan, dan tahun ini
Semuanya sudah berhamba teknologi
Bahkan di ujung lorong penantian ini
: semoga tak salah memaknai
Kisaran, 7 Juni 2012
Tuesday, December 18, 2012
MEMBASUH INDAH
MEMBASUH INDAH
Oleh: Muhammad Saufi Ginting
Ada
sungai mengalir di hati
Meneduhkan
jiwa-jiwa yang merindui
Sejenak
membasuh resah pada lelah yang tak henti
Tak
lekang lesap keindahan menelusuri
Agh..masih
saja belum mampu segenap raga mensyukuri
Padahal
engkau gagah dengan segala takdir yang menyusur di sudut-sudut hati
Pun
meski tergoncang tak surut berpantang
Melewati
ratusan, ribuan, dan jutaan halang
Tetap
menjadi pedoman dalam menuntaskan kehidupan
Setidaknya,
kuingin ragaku tertanam tak pindah dari tanahmu yang dalam
Menjagamu
lewat rumah-rumah keabadian
Menjadi
sajak padamu negeri yang berpedoman
Menjadi
cerita panutan generasi penghujung zaman
Mencatatkan
sejarah bahwa kita bukan bangsa sembarang
Mari
membasuh indah bersama tangan tuhan
Meluapkan
pertikaian dan kekacauan
Di
sini kita jejakkan kaki tanpa beban dan penuh kearifan
Menjadikan
sungai-sungai seperti kitab suci yang mencatatkan
Rumah
Azka-Kisaran, 01 Agustus 2012
Monday, December 17, 2012
TAKDIR DI KATA NENEK
TAKDIR
DI KATA NENEK
sudah
begitulah takdirnya dahulu, kata nenekmu
jangan
kau membantah dan berlalu
jangan
kau tanya asal mula dia berada, hingga masih singgah di dada
karena
di sana serpihan noda telah menjadi biasa dan indah tampaknya
tak
ada ujung pangkalnya
tak
ada hukum yang dapat mengikisnya
;hanya
kita
menyikapi
dengan takzim dan ilmu yang tak biasa
semoga
kau tak lelah belajar membaca
pesan
guruku
diantara
senyum dan buku-buku baru
Saturday, April 14, 2012
PUISI SAUFI GINTING
KITA
Kita sudah melihat pagi dengan mentari
Mendengar kicau burung dengan gagah berani
Dan kita juga sudah menikmati air yang tak dapat dihabisi
Dengan cita dan cinta kita terus mendaki
Lantas sudahkah kita menjadi contoh diri?
Menuai langkah dengan senyum yang sempurna dari hati
Dan tak lelah karena semakin tinggi
Semua mesti kita lepaskan dengan hati
Tak mesti mengeluh dengan iri
Kita adalah ummat-Nya
Jangan menyombong dengan harta yang akan tertinggal ;di
dunia
Kisaran, 15 Pebruari 2012
Sunday, April 8, 2012
PUISI
SEMANGAT
Mengangumkan
Tatkala pikiran melayang akan keindahan
Mengingatmu, merinduimu
Diwaktu-waktu aku harus menuntut ilmu
Diantara hatiku yang terbagi
Tetap padamu, pada kalian, merindui
Mengesankan
Tatkala waktu yang kukejar
Dengan sabar kau mengajar
Dengan bijak kau mendengar
Dengan panggilan yang tak bingar
Aku semakin merindui
Hidup harus menyelesaikan
Ada awal begitu juga akhir
Di balik semua ada Tuhan
Bersama do’a-do’amu yang mengalir
Menenangkan jiwa dengan keyakinan
Menciptakan kebaikan demi kebaikan
Terus berjuang, cinta!
Katamu dengan bijaksana.
PPs. Unimed-Medan, 22 Oktober 2011
Saturday, April 7, 2012
PUISI
JUTAAN BAIT KECEWA
Oleh: M. Syaufi Ginting
Satu, biasa
Dua, ala kadarnya
Tiga, masih sama
Empat, belum apa-apa
Lima, KKN merajalela
Enam, yang kaya tertawa-tawa
Tujuh, yang miskin mati rasa
Delapan, Poli-tikus sibuk dengan
harta
Sembilan, harga-harga semakin naik
saja
Sepuluh, semakin banyak orang gila
…
…
…
Sejuta, ah entahlah….
Inilah negeri
Penuh dengan korupsi, pornografi,
pornoaksi
Fitnah yang tak terkendali
Akhirnya, setan bertanya-tanya
Siapakah garangan setan yang
sebenarnya???
Sudah ah
Banyak bencana
Kitapun tak bahagia.
Kisaran, 20 Ramadhan 1429 H/20-09-08
Monday, April 2, 2012
Pernah dimuat di Asahan Pos Baru
SAJAK ANAK
Oleh: Muhammad Saufi Ginting
Anak…
Adalah aku
pernah sepertinya
Berlari-lari
kecil dan tertawa
![]() |
| Kelak aku akan menjadi yang terbaik buat agama dan keluarga kita, Yah! |
Membawa
setitik harap pada hatimu, mak!
Mengangkatku
setinggi yang kau bisa, yah!
Anak…
Adalah ilmu
yang terus kukecap
Diantara tetes
keringat yang tumpah
Dalam tanggung
jawabmu yang meresah, yah!
Pada nikmatnya
aroma masakanmu, mak!
Pada bahagia
hidup berumah tangga
Anak…
Sering ah yang
tak meresah
Kehendak yang
tak ingin terbantah
Dan agh…
Sampai hari
ini masih menafikan
Betapa seribu
do’a tak mampu mengganti keihklasan
Demi rindu
pada satu tuju
Kadangpun
merisau di hati yang tak menentu
Dan anak emak
ayah
Berusaha
memilih do’a yang sempurna
Semoga pada
syurga…
Kisaran, 24 Nop 2008
SAJAK AYAH
Oleh: Muhammad Saufi Ginting
Beginilah
mungkin rindu
Yang kalian
titipkan padaku
Membawa pesan
syurga beribu
Pada akhir
yang ingin dituju
![]() |
| Berjuanglah, dengan keyakinan dan tetap dengan Islammu mu, Nak. |
Beginilah
mungkin cemas
Ketika ayah
merengkuh asa yang terperas
Pada puncaknya
Menugguku
Dan pada
akhirnya
Aku menunggu
padamu sekarang
Anakku…
Beginilah
mungkin menitip rindu
Yang kau selip
di relung-relung kalbuku
Kini aku
mengajar rindu
Pada cucumu
Akulah ayah….
(Do’akan kami
ya mak, yah..!)
Kisaran, 24
Nop 2008
PESAN SYURGA
PESAN SYURGA
Pesan syurga
kami sampaikan
Mengantar
kalian pada pintu-Nya
Hanya untaian
do’a yang kami rindukan
Mengikhlas
ilmu pada dunia
Dan pesan itu
untuk kalian
Kami hanya
orang tua
Rindu syurga
yang kami titipkan
Menjemput
berjuta asa tak tertahan
Pada mu wahai jundi buya
Bersama senyum
hangat disisa-sisa waktu kita
Hanya bahagia
yang kami harapkan
Jika kita
berpisah di jalan yang panjang
Do’akan bunda
yang melahirkan
Hari ini
kalian sudah dewasa
Ketika sajak
ini kalian baca
Esok buya dan
bunda tak setegar sekarang
Hanya
mengingatkan syurga terbentang
Jangan
terhalang
(Do’a-do’a
kami hari ini adalah kemenangan, menang untuk esok pada syurga dan kita
berkumpul kembali di sana. Wujudkan ya nak!)
Kisaran, 24
Nop 2008
Wednesday, March 28, 2012
GALAU
Hidup hanya sekali kawan, jangan kau sia-siakan. Cinta yang kau puja-puji berbeda dengan cinta yang akan kau rasakan tatkala kau telah memiliki belahan jiwa dan anak keturunanmu. Semua lebih. Lebih dari sekedar kata sayang, lebih dari sekedar say hello, lebih dari apapun yang kau dambakan saat kau masih sendirian. Berhentilah. Berhentilah dari kegelisahannmu. Jangan bersedih, usia bertambah, maka ilmu dan iman harus berlebih. jangan statis. mari mengikis kacau.
Tuesday, March 13, 2012
PUISI
Sebab
tertarik pada status seorang rekan di jejaring sosial, inilah jadinya…semoga
bermanfaat…dan selamat membaca…
DIALOG
MEMBUNUH SENJA
Oleh: Setia Wati dan Muhammad Saufi Ginting
Apa menurutmu, kubunuh saja
senja sebelum habis waktunya?
Biarkan!
Biarkan ia mengusap peluh
Pada Allah, dengan sujud-sujud mendesah
Biarkan ia mengusap peluh
Pada Allah, dengan sujud-sujud mendesah
Apa kau yakin ia takkan
mengulang kisah yang sama?
Biarkan!
Biarkan ia mengusik detik dengan detak
Membaur pada sayap-sayap asa
Pada ribuan tahun yang terarak
Pada dunia yang tak lagi bersahaja
Yakinlah, dunia tak seujung senja
Yang ingin kau bunuh dengan usikmu saja
Biarkan ia mengalir pada sampai waktunya
Biarkan ia mengusik detik dengan detak
Membaur pada sayap-sayap asa
Pada ribuan tahun yang terarak
Pada dunia yang tak lagi bersahaja
Yakinlah, dunia tak seujung senja
Yang ingin kau bunuh dengan usikmu saja
Biarkan ia mengalir pada sampai waktunya
Berdoalah..
Maka,
pantaskah kau bunuh senja dengan gelisahmu?
Ku tak ingin ia pergi
Pun, tak ingin ia di sini
Bila lara... mengendapkan tanya pada cawan-cawan gelisah
Aku lelah... kendati ku dapat bersandar pada teduhnya daun-daun doa...
Pun, tak ingin ia di sini
Bila lara... mengendapkan tanya pada cawan-cawan gelisah
Aku lelah... kendati ku dapat bersandar pada teduhnya daun-daun doa...
Apakah waktu sudah berubah?
tidak
Masih mengulir diantara detik, menit, dan jam
Apakah cinta sudah berubah?
tidak
Masih dasar penguat bingkai kata sakinah, mawaddah, dan rahmah
Apakah Tuhan sudah berubah?
Tidak
Masih pada waktu Dia berjanji
Dan mahacinta sifat dasarNya
tidak
Masih mengulir diantara detik, menit, dan jam
Apakah cinta sudah berubah?
tidak
Masih dasar penguat bingkai kata sakinah, mawaddah, dan rahmah
Apakah Tuhan sudah berubah?
Tidak
Masih pada waktu Dia berjanji
Dan mahacinta sifat dasarNya
Apakah aku sang buta?
hingga harus kau cecar aku dengan sabda-sabda layaknya Isa menggenggam
mukjizatnya?
Apakah aku sang hina? hingga harus kumengemis pada makhluk-makhluk penghuni rawa dosa?
Katakan padaku, dimana aku harus menggungat janjiNya?
Apakah aku sang hina? hingga harus kumengemis pada makhluk-makhluk penghuni rawa dosa?
Katakan padaku, dimana aku harus menggungat janjiNya?
Apapun
itu,
Hidup harus tetap berjalan
Selama nyawa masih di badan
Jangan melengah pada kenangan
Pada ketakpastian yang harusnya dibuang
Jangan merenggang dalam bimbang
Majulah!
Allah bersama dalam detik tak terbilang…
Hidup harus tetap berjalan
Selama nyawa masih di badan
Jangan melengah pada kenangan
Pada ketakpastian yang harusnya dibuang
Jangan merenggang dalam bimbang
Majulah!
Allah bersama dalam detik tak terbilang…
Dan titik bening itu
luruh... mengalir bersama keangkuhan yang perlahan runtuh. Apa aku harus
menanti?
Atau meminta senja pergi?
jiwaku tlah jadi bangkai. mati... tak lagi merasai elegi pagi...
Ini
cinta!
Genggam, Sembunyikan.
Ini waktu!
Pasti kan kau temukan jawaban
Genggam, Sembunyikan.
Ini waktu!
Pasti kan kau temukan jawaban
Medan-Kisaran, 13 Maret 2012
Satu tempat tak terbilang..
Wednesday, February 29, 2012
PUISI
UKHUWAHAku kenal kamu dalam sebuah kisah unik yang tak terelakkanMenjadi benar dan kebenaran dalam setiap langkah yang panjangMenyusur waktu dengan derai tawa, sedih, dan peluh yang bercucuranKala itu, aku pun masih memakai celana pendek berwarna biru kelamBanyak waktu yang membuat kita saling tersenyum dan tertawaKetika kita berkumpul hari ini mengingat akan masa-masa sebelumnyaAku kini yang menulis kata-kata iniTersenyum bahagia dalam waktu yang tak mampu aku menjabarkannyaMaka kitapun mulai menyusur waktu dengan bijak atau terhentakKita berpijar atau terkaparTapi kita berusaha untuk tetap dalam ikatan ukhuwahTak mengenal lelahHampir setiap kita sudah berkeluagaPunya istri, suami, dan anak-anak yang membuat banggaTapi kita masih seperti biasaTetap dalam kebersamaan walau kita tak bersamaItulah kitaSemoga tetap pada ikatan ukhuwah yang bersahajaHingga anak cucu kita…Kisaran, 4 Juli 2011Kenangan di SMP Negeri 3 Kisaran 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)




