Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Saturday, April 7, 2012

PUISI


JUTAAN BAIT KECEWA

Oleh: M. Syaufi Ginting


Satu, biasa
Dua, ala kadarnya
Tiga, masih sama
Empat, belum apa-apa
Lima, KKN merajalela
Enam, yang kaya tertawa-tawa
Tujuh, yang miskin mati rasa
Delapan, Poli-tikus sibuk dengan harta
Sembilan, harga-harga semakin naik saja
Sepuluh, semakin banyak orang gila
Sejuta, ah entahlah….

Inilah negeri
Penuh dengan korupsi, pornografi, pornoaksi
Fitnah yang tak terkendali

Akhirnya, setan bertanya-tanya
Siapakah garangan setan yang sebenarnya???

Sudah ah
Banyak bencana
Kitapun tak bahagia.

Kisaran, 20 Ramadhan 1429 H/20-09-08

Monday, April 2, 2012

MESJID YANG MEMINTA-MINTA



MESJID YANG MEMINTA-MINTA
Oleh: Muhammad Saufi Ginting

Perjalanan pergi dan pulang Kisaran-Medan, kita akan menemukan mesjid-mesjid yang dipinggir jalan lintas "mengganggu perjalananan" siapa saja. Dengan alasan ingin membangun mesjid yang besar, megah dan hebat, maka cara ini pun terus dilakukan turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini juga terjadi dari medan ke Banda Aceh.

Sungguh terasa lemahnya daya pikir kita dalam menyusun kekuatan untuk membangun islam; membangun mesjid dengan meminta-minta. Sesungguhya ketika kita meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid, siapa saja bisa memberikan, tapi siapa saja juga bisa mencemooh.
Apalah orang Islam ini, katanya besar, katanya punya kekuatan, tapi membangun rumah ibadahnya saja harus meminta-minta.

Sudah saya foto dengan kamera HP, tapi lupa mindahinnya ke laptop. jadi copas gambar saja dari   http://www.surabayapagi.com,    

Dilain kasus ada juga kita temukan pengemis, gelandangan yang jadi peminta-minta menggunakan lobe/peci di kepala bagi yang laki-laki dan mengenakan jilbab bagi perempuan dari mulai anak-anak hingga orang tua sekalipun. Semua itu identik dengan simbol Islam. Seolah-olah Islam ini sangat miskin dan tidak memikirkan nasib ummatnya dan sangat jauh dari konsep rahmatan lil ‘alamin.

Oknum tertentu yang memanfaat anak-anak dengan membawa kaleng infaq dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan untuk membangun sebuah pesantren dan juga mesjid di daerah tertentu yang tak jelas keberadaanya. Miris melihat contoh-contoh seperti ini sebenarnya.

Padahal kita bisa melakukan cara lain dalam mengembangkan mesjid. Misalnya cara yang dilakukan oleh organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah dalam membangun apapun tak pernah meminta-minta di jalanan, sebab mereka punya massa sendiri yang bisa di gunakan untuk membantu pembangunan mesjid, pesantren atau amal usaha. Cukup dengan tabligh akbar atau pengajian, maka seluruh anggota Muhammadiyah akan berduyun-duyun memberikan bantuan tunai ataupun berupa pengakuan, jika saat itu tak bisa memberikan bantuan. Jangan ditanya, dalam sebulan mesjid besar dan megah sudah bisa dibangun di atas tanah yang luas, dan dalam waktu setengah tahun sudah bisa ditempati.

Bahkan setelah itu, mesjid inipun tak mati, sebab dimakmurkan dari keikhlasan orang-orang yang ingin mendekatkan diri pada Allah. Sekarang dimanakah mesjid kita yang tak meminta-minta itu? Apa yang harus kita lakukan?

Monday, March 26, 2012

OPINI


MEMBELAJARKAN KARAKTER HEBAT PADA ANAK
Oleh: Muhammad Saufi Ginting

Mouly (dalam Trianto, 2010:9) mendefinisikan bahwa belajar pada dasarnya adalah perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Lebih lajut dikatakan bawwa perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan, serta perubahan aspek-aspek yang lain yang ada pada individu belajar.
Perubahan yag dimaksud dalam belajar di atas perubahan ke arah positif, dalam arti untuk memperbaiki generasi penerus (siswa) memiliki pegetahuan yang bermanfaat dan berdaya guna dikemudian hari kelak, untuk bangsa dan agamanya. Akan tetapi melihat dan membaca media baik televisi dan koran belakangan ini, rasanya bergidik ngeri ketika anak-anak bangsa (pelajar) sudah kehilangan karakter positif untuk mencintai hidupnya dan mendekatkan diri pada Tuhan. Perkelahian yang terus-menerus dilakoni oleh pelajar kita contoh kasus perkelahian siswa SMA Negeri 6 Jakarta dengan wartawan, bisa dilihat beritanya di televisi berulang-ulang. Perilaku geng motor menurut informasi dari media juga dilakukan oleh para pelajar kita di Medan, semakin menjadi-jadi dan belum terkendalikan, menjadi fenomena memiriskan hati bagi siapa saja yang mendengarnya apalagi menjadi korban tindakan anarkis oleh anak-anak kita sendiri.
Jika kita melihat ke belakang, perkembangan dan kebebasan berekspresi menjadi dilema buruk bagi bangsa kita. Pascareformasi 1998, peranan media massa dan elektronik menjadi lebih besar, khususnya televisi. Televisi dapat memberikan informasi dari seluruh dunia kepada orang dimanapun berada. Tetapi sayangnya kebanyakan siaran yang dipertontonkan penyedia layanan dan penyedia hiburan hanya mementingkan kebutuhan pribadi mereka ketimbang memikirkan bagaimana pengaruh buruk televisi terhadap pendidikan masyarakat, khususnya  kejiwaan anak yang merupakan masa depan bangsa. Padahal menurut UU Penyiaran tahun 2002 pasal 36 tentang isi siaran “dilarang menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang”.
Tapi tak juga semua bisa kita salahkan kepada televisi. Masyarakat harus turut menjaga dengan terus memberikan pendampingan agar tidak berakibat buruk pada perkembangan psikologis dan masa depan anak kita. Selain itu ada juga lembaga yang berhak menyensor siaran yang berkewajiban terus menjaga kualitas siaran, sebut saja Lembaga Sensor Film, bahkan bisa jadi lebih ke atas adalah Menkominfo.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak hal yang terus berubah dan baru. Mulai dari gaya, budaya, dan bahkan dunia pendidikan. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan sehingga tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Selain itu, perlu diingat bahwa kita harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sebab bisa jadi karakter yang kita berikan selama ini adalah tentang ilmu-ilmu umum, tapi masih belum kita kaitkan untuk mengingat Tuhan. Hal yang dapat diusahakan adalah memberikan tauladan yang baik bagi anak-anak kita, salah satunya dengan iqro’ (banyak membaca).
Membangun Karakter Positif
Terkait dengan membaca, setidaknya ada enam obyek yang bisa kita jadikan bahan bacaan. Keenam obyek tersebut menurut Rahadi dalam tulisannya “Membudayabacakan Masyarakat (2004)” adalah: Buku (tulisan), diri sendiri (individu), orang lain (sosial), lingkungan (alam semesta), koran (informasi) dan Qur’an (agama). Nabi Muhammad SAW sebelumnya adalah orang yang tak pandai membaca, sampai ketika ia diperintahkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril supaya pandai membaca. Sejarah ini terekam dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1-5, merupakan wahyu pertama yang dimulai dengan kata Iqro, “Bacalah!”.
Hal ini mengisyaratkan kepada kita agar mampu menjadi pribadi yang gemar membaca. Membaca dalam konteks yang diajarkan Allah kepada kita tidak hanya kepada kitab, tapi semua yang telah diciptakan oleh Allah SWT baik yang tersurat (tekstual) atau tersirat (kontekstual). Ayat tersebut memberi isyarat yang sangat baik bagi pola pikir manusia, khususnya bagi umat Islam. Dengan penurunan ayat tersebut pada tahap awal, Allah SWT mengingatkan bahwa nilai bacaan berada pada posisi yang utama. Karena itu, sabda Rasulullah SAW  “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” merupakan anjuran yang sangat erat kaitannya dengan wahyu pertama.
Ironisnya, saat ini tidak sedikit orang yang melalaikan makna ayat tersebut. Bahkan tidak jarang orang beranggapan bahwa bacaan, terutama bacaan secara tekstual, tidak berpengaruh besar terhadap posisi kehidupan manusia. Padahal, terlepas dari penggalian terhadap makna wahyu pertama kepada Rasulullah SAW di atas, kegiatan membaca merupakan salah satu ujung tombak bagi perkembangan peradaban umat manusia. Untuk itu membaca adalah tahap awal dalam membangun karakter positif bagi kita dan anak-anak kita.
Selain itu, Muslich  dalam bukunya “Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional” (2011: 56-57) memberikan tips bagaimana menjadi pendidik yang memiliki karakter hebat. Mencintai anak. Cinta yang tulus kepada anak adalah modal awal mendidik anak. Guru menerima anak didiknya apa adanya, mencintainya tanpa syarat dan mendorong anak untuk melakukan yang terbaik pada dirinya. Penampilan yang penuh cinta adalah dengan senyum, sering tampak bahagia, menyenangkan, dan pandangan hidupnya positif.
Bersahabat dengan anak dan menjadi teladan bagi anak. Guru harus bisa digugu dan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, setiap apa yang diucapkan di hadapan anak harus benar dari sisi apa saja: keilmuan, moral, agama, budaya. Cara penyampaiannya pun harus "menyenangkan" dan beradab. Ia pun harus bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa kikuk, lebih-lebih angkuh. Anak senantiasa mengamati prilaku gurunya dalam setiap kesempatan.
Mencintai pekerjaan guru. Guru yang mencintai pekerjaannya akan senantiasa bersemangat. Setiap tahun ajaran baru adalah dimulainya satu kebahagiaan dan satu tantangan baru. Guru yang hebat tidak akan merasa bosan dan terbebani. Guru yang hebat akan mencintai anak didiknya satu persatu, memahami kemampuan akademisnya, kepribadiannya, kebiasaannya dan kebiasaan belajarnya.
Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Guru harus terbuka dengan teknik mengajar baru, membuang rasa sombong dan selalu mencari ilmu. Ketika masuk kelas, guru harus dengan pikiran terbuka dan tidak ragu mengevaluasi gaya mengajarnya sendiri, dan siap berubah jika diperlukan.
Tidak pernah berhenti belajar. Dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya, guru harus selalu belajar dan belajar. Kebiasaan membaca buku sesuai dengan bidang studinya, dan mengakses informasi aktual tidak boleh ditinggalkan.
Penutup
Kita tidak perlu saling menyalahkan, tapi saatnya untuk memperbaiki segalanya di berbagai bidang, terutama dalam dunia pendidikan. Jangan sampai apa yang terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Medan menjadi virus di kota-kota kecil lainnya yang setiap saat bisa saja berkembang dengan cepat. Cukupkan sampai di situ dan selesaikan. Mulai dari diri kita sendiri, sehingga nilai-nilai positif dan sikap mencintai Tuhan terus tertanam pada generasi penerus.
Dengan demikian rumah (keluarga) dan pendidikan yang baik dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang penting dalam pertumbuhan kejiwaan. Begitupun dengan anak-anak kita, ajarkan mereka untuk jujur terhadap diri sendiri dan dengan kemampuan mereka. Ajarkan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang mereka lakukan.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Medan prodi Linguistik Terapan Bahasa Inggris tinggal di Kisaran.



Monday, January 23, 2012

UN: PEMISKINAN MASSIF DALAM PENDIDIKAN

UN: PEMISKINAN MASSIF DALAM PENDIDIKAN
Muhammad Saufi Ginting
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Medan (UNIMED)

Ujian Nasional (UN) merupakan fase akhir bagi seorang siswa dalam menyelesaikan sekolahnya baik untuk tingkat Sekolah Dasar/Sederajat berupa UASBN, sampai pada tingkat SMA/Aliyah Sederajat. Dahulu, pada awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1971 ada juga ujian akhir bagi siswa namanya Ujian Negara, kemudian pada tahun 1972 berubah menjadi Ujian Sekolah karena tingkat kelulusan Ujian Negara hanya 30-40 persen saja. Pada saat menjadi 100 persen, kemudian diganti lagi menjadi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), dan sekarang namanya berubah menjadi Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional tahun pelajaran 2010/2011 telah berlalu, dan telah pula diumumkan para siswa yang lulus dan tidak lulus dari tingkat SMA, SMP, dan yang terakhir tingkat SD.
Kelulusan bagi anak-anak kita adalah jalan untuk menuju pintu kebahagiaan lainnya. Lihat saja, bagi siswa SD, mereka akan bahagia melanjutkan ke SMP, otomatis mereka tak akan memakai seragam merah putih lagi. Anak-anak kita di SMP mereka akan sangat bahagia melanjutkan ke jenjang SMA sebab tak ada lagi seragam biru putih, dan mereka bisa menikmati masa-masa remaja dengan penuh keceriaan. Bagi yang SMA akan bahagia melanjutkan ke tingkat kuliah, sebab tak ada lagi baju seragam yang akan mengikat mereka kemanapun mereka pergi dalam menempuh pendidikan.
Belajar dari pengalaman UN tahun-tahun sebelumnya, setiap sekolah sudah mempersiapkan diri sejak semester II awal tahun pelajaran. Bahkan ada juga sekolah yang sudah mempersiapkan diri sejak awal Semester I bagi siswanya yang akan menghadapi UN. Pelaksanaan dan aturan-aturan yang berlaku dalam UN membuat setiap sekolah berusaha dengan keras mempersiapkan segalanya. Misalnya saja dengan mewajibkan para siswanya untuk mengikuti les tambahan sepulang sekolah ataupun di hari libur. Mewajibkan para guru bidang studi yang di-UN-kan menjadi tutor pada les tambahan tersebut. Bahkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan lebih, ia akan memasukkan anak-anaknya mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, baik melalui institusi resmi ataupun memanggil guru privat ke rumah.
            Akan tetapi bagi orang tua yang memang kerja keras untuk mendukung anaknya agar lulus UN dengan nilai memuaskan, tentu rasanya tidak fair ketika melihat nilai sebagai hasil UN anak-anaknya kenyataannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah mengikuti bimbingan. Begitu juga bagi anak-anak kita yang bersekolah di SMP akan tak bahagia mengetahui bahwa ‘mencontek’ yang dilarang ketika ulangan harian, formatif, dan lain sebagainya, hanya menjadi bahan renungan sesaat, sebab tak berguna kepandaian saat UN. Anak-anak kita yang di SMA akan kecewa, sebab kecerdasan mereka harus dibayar dengan ketidak puasan hati dalam menjalankan keinginan untuk bersaing menjadi yang terbaik, apalagi ketika kuliahpun kebiasaan mencontek merupakan bahan yang paling baik saat ujian. Lebih ironis apabila mereka kuliah sebagai calon  guru, ketika ujian mereka ‘mencontek bahkan mengopek’ sementara ketika mengajar dan berada di depan siswa dengan tanpa bersalah untuk melarang anak-anaknya mencontek dan mengopek. Di dalam http://ujiannasional.org/ disebutkan bahwa semua persoalan terkait UN adalah cerminan masyarakat Indonesia, persoalan UN bermuara dari persoalan paling mendasar di masyarakat, yaitu sulitnya memberantas budaya korupsi.
Korupsi menurut Suara Muhammadiyah edisi 16-30 Juni 2011 hlm. 6, merupakan salah satu proses pemiskinan pada “level atas” yang berbentuk pada gejala pendangkalan makna hidup, pemiskinan alternatif mencari sumber kehidupan, dan penyempitan orientasi hidup. Hidup cenderung dipahami sebagai wahana untuk mengumbar kenikmatan duniawi, dan satu-satunya sumber kehidupan mereka hanyalah korupsi. Orientasi hidup hanya ditujukan kepada kepentingan diri sendiri, keluarga, partai dan kelompoknya.
            Hal ini menjadi image buruk di mata masyarakat. Bisa jadi pendidikan tak lagi penting bagi orang tua yang berharap anaknya lulus di mata masyarakat, tak penting bagi anak, sebab semua bisa sejalan, apalagi dengan uang pasti lebih diutamakan. Tidak penting bagi bangsa, sebab kalau anak bangsa cerdas kemungkinan akan menjadi duri dalam daging sendiri. Pendidikan tak penting, sebab agama telah terkikis dengan persaingan dan lemahnya iman.
Peristiwa ini bisa saja terjadi sebab pemiskinan terhadap akses pendidikan yang lebih baik sudah berkurang. Sehingga menghasilkan gap yang sangat kentara antara sekolah yang satu dan sekolah lainnya, apalagi antara sekolah negeri dan sekolah swasta, antara sekolah yang di pusat dengan sekolah yang di daerah-daerah. Sejujurnya, ketika kita lihat lebih jauh, ternyata model pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah elit di Jawa, sangat jauh berbeda dengan sekolah yang berada di pelosok kampung di salah satu daerah di Sumatera misalnya, sekalipun juga merupakan Sekolah Standar Nasional (SSN) ataupun Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Kononlah lagi sekolah yang tidak menyandang gelar atau yang belum terakreditasi. Tetapi UN tetap terkesan untuk “dipaksakan” demi kepentingan Negara, hanya ingin membuktikan bahwa Indonesia juga punya standar nasional dalam menilai kelulusan siswa, dan tidak kalah dengan sekolah-sekolah luar negeri lainnya.
Bisa jadi inilah salah satu bentuk pemiskinan dalam pendidikan. Muhammadun dalam situs http://gp-ansor.org/ menjelaskan bahwa kemiskinan tidak lahir dengan sendirinya (given), ia tidak muncul bukan tanpa sebab. Orang-orang miskin muncul bukan karena mereka malas atau boros. Mereka miskin bukan pula karena nasibnya yang sedang sial sehingga menjadi miskin. Mereka menjadi orang miskin karena dibuat miskin oleh struktur ekonomi, politik dan sosial. Mereka miskin karena memang sengaja dilestarikan untuk menjadi miskin. Mereka menjadi kaum tertindas karena memang disengaja, direkayasa dan diposisikan sedemikian rupa untuk ditindas. Mereka miskin karena dieksploitasi, diperas, dijarah dan dirampok hak-haknya. Mereka miskin karena dipaksa oleh sistem ekonomi dan politik yang tidak adil. Kemiskinan penting untuk dipelihara dan dilestarikan karena besar manfaatnya, yakni menunjang kepentingan kelompok dominan, elite penguasa (the ruling elites) atau kaum kapitalis.
Munculnya apa yang disebut sebagai ‘kesengsaraan umum’ dimana-mana sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Proses pemiskinan yang berlangsung secara masif di Indonesia terus berkelanjutan, ini berlangsung pada dua jalur dan dua level yaitu pada masyarakat kelas atas yang berlangsung pada  titik strategis, yaitu mental, spiritual, nilai dan kesadaran sosial mereka, Serta pada masyarakat kelas bawah, yaitu berupa pengurangan dan penghilangan akses mereka terhadap kesempatan kerja, pengurangan dan penghilangan akses terhadap tempat usaha, pasar. Pengurangan dan penghilangan akses mereka terhadap pendidikan, kesehatan, permodalan, bahan baku usaha, lahan dan cita-cita (lihat Suara Muhammadiyah No. 12/TH. KE 96, 16-30 Juni 2011 hlm. 6).
Bagaiamana dengan pemiskinan dunia pendidikan baik pada level atas dan level bawah? Muhammadun dalam resensi buku “Sekolah Bukan Pasar”, menjelaskan bahwa tragedi kapitalisasi pendidikan menurut St. Kartono si penulis buku merupakan bentuk McDonalisasi pendidikan. Dalam arti, pendidikan diibaratkan sebagai makanan lezat yang akan diperjual-belikan sesuai harga pasar. McDonalisasi pendidikan selalu menempatkan institusi pendidikan dalam proses daya tawar (bargaining) antara penjual (seller) dan pembeli (customer). Barang dagangan (commodity) akan dipoles sedemikian rupa dengan berbagai atribut dan selera pasar. Komoditas hanya dilihat luarnya saja, tidak begitu penting isi dalamnya. Substansi tidak begitu penting. Makan McDonal di kafe mewah, seolah mendapatkan prestise yang luar biasa. Image publik itulah yang dibeli dalam dunia McDonalisasi pendidikan.
Menegaskan hal ini Suara Muhammadiyah (ibid) menjelaskan bahwa semua proses pemiskinan masif, khususnya yang kelas bawah ini berlangsung diakibatkan oleh atau bersumber dari kebijakan negara, kebijakan pemerintah, kebijakan partai yang lebih mengabdi dan menghamba pada kepentingan pasar, kepentingan modal, dan kepentingan pasar modal global sekarang ini. Intinya, kebijakan negara dan pemerintah itu lebih memanjakan pihak asing ketimbang pihak rakyat sendiri.  Akan tetapi kita berharap “pemiskinan” dunia pendidikan khususnya dalam pelaksanaan UN, bukan menjadikan kita untuk melemahkan proses pendidikan, tetapi semakin menguatkan bahwa kita harus berubah. 
Penutup
Sungguh, semua jalannya kehidupan kita ini diatur oleh Allah SWT. Mau jadi apapun, tetap saja rezeki Allah yang tentukan. Tinggal bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah tersebut. Lihat juga cerita laskar pelangi, walau semua siswanya miskin, tapi ada seorang yang ‘sangat’ pandai, akhirnya hanya membuka kedai kopi di kampungnya. Sementara sang penulis cerita tersebut juga salah satu pemeran utamanya, dapat beasiswa dari perusahaan di kampungnya dan berkuliah di luar negeri.
Contoh yang saya sebutkan di muka tadi, bisa jadi dalam kehidupan kita saat ini. Anak-anak kita yang menyelesaikan pendidikan 9 tahunnya, punya satu tujuan, LULUS. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa untuk lulus tak perlu belajar. Sebab cukup dengan datang pagi-pagi satu jam sebelum UN, maka tidak usah diragukan lagi, sang gacok sudah mendapat jawaban tepat.
Tidak ada yang bisa kita salahkan, tapi saatnya untuk memperbaiki segalanya di berbagai bidang. Terutama dalam dunia pendidikan. Karena dengan memperbaiki pola pendidikanlah semua korupsi, kolusi, dan nepotisme dapat dihapuskan. Caranya tentu tidak mudah. Kita pasti akan ditertawakan olah sekelompok orang yang telah terbiasa menghalalkan segala cara. Tapi bagi kita yang ingin berusaha untuk bertindak profesional, kita bisa memulainya dari kita sendiri. Dari bagian yang bisa kita lakukan. Dengan begitu tidak ada lagi mencuci nilai rapot dengan setumpuk uang. Tidak ada lagi Ujian Nasional yang dibantu guru, dan semua berjalan apa adanya.
Begitupun dengan anak-anak kita, ajarkan mereka untuk jujur terhadap diri sendiri dan dengan kemampuan mereka. Ajarkan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang mereka lakukan.

Sunday, January 1, 2012

Si Cerdas Anakku

Si Cerdas Anakku

oleh Saufi Ginting Buyaalulkahfi pada 26 April 2011 pukul 17:26
Namanya Awalul Akbar Rizqy Ginting panggilannya Alul. Usianya tepat 2 tahun ketika adiknya Jihadu Syuhada Kahfi Ginting lahir. sekarang usianya 2 tahun 1 bulan 2 minggu 2 hari, kelincahannya di rumah sungguh Subhannallah. sudah beberapa lagu bisa dihafalnya:Cecak di dinding, burung kakak tua, teko kecil, wak gung, wak udin (bukan udin sedunia), 4 lagu lain yang diciptakan buya untuknya ketika mandi, minum susu kereta api, dan melihat bubum besar, dia bisa menghafalnya, hitungan 1-10 dia juga bisa, walau lupa angka 6nya. semua diucapkan walaupun dengan suara cadelnya. bahkan doa mau tidurpun dia sudah bisa. Nama binatang:kucing, lembu, kerbau, kambing, anjing, cecak, tikus, semut, nyamuk, lalat, bebek, ia bisa menyebutkan dan tahu namanya ketika melihat aslinya. nama lengkap adiknya yang panjang juga ia mampu menyebutkannya, begitu juga namanya sendiri. Ia masuk ke rumah mengucapkan 'samlekom' sambil ketok puntu, dan menyuruh tamu yang datang ke rumah untuk masuk. hmmhhhh..menjaga dan memperhatikan perkembangan anakku sejak lahir dari rahim istriku merupakan kebahagiaan yang tak terhingga yang kurasakan. Ketika ia minta dibuatkan susu sementara aku lagi bekerja, menggoda2iku yang bekerja, minta main kuda-kudaan..berbahagialah aku yang setiap detik bisa mendampingi istriku menjaga dan melihat perkembangan anak-anakku. terimakasih ya Allah, dengan segala kemudahan dan kebaikan rezki yang Engkau kepada kami, semoga kami bisa menjaga dan memenuhi segala hak-hak mereka tanpa pernah belaku zolim. amiin.

Lazim dan Tak Lazim

Lazim dan Tak Lazim

Lazimnya ular itu binatang melata, tapi ada manusia yg meng-ularkan orang.
Lazimnya kucing itu binatang, tapi ada pula orang yang jadi kucing garong,
Lazimnya kambing itu binatang,tapi ada pula orang yang mengkambinghitamkan orang,
Lazimnya yang memanjat itu kera,tapi ada pula org yg memanjatkan doa..
MANUSIA KALAU SUDAH GEMBIRA, MARAH AKAN MASUK KE WILAYAH KETDKLAZIMAN..
(Prof. Amrin. di PPs, LTBI UNIMED mata Kuliah Grammatics)

Friday, December 23, 2011

BELAJAR DARI NORWEGIA

Tulisan yang kedua di Majalah Suara Muhammadiyah (SM) edisi No. 23/TH. KE-96, 1-15 Desember 2011 di kolom Kronik Dunia Islam halaman 47




BELAJAR DARI NORWEGIA
MUHAMMAD SAUFI GINTING
Mahasiswa Pascasarjana Unimed Prodi Linguistik Terapan Bahasa Inggris

N
orwegia merupakan sebuah Negara kerajaan. Kerajaan Norwegia atau Kongeriket Norge (Noreg) dalam bahasa Norwegia, adalah sebuah negara Nordik di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia. Luas total Norwegia adalah 385,525 km² dan populasi sebesar 4.9 juta. Norwegia merupakan negara dengan kepadatan penduduk terendah kedua di Eropa. Ibukotanya Oslo.
cover majalah SM edisi 23
Norwegia memiliki cadangan minyak bumi, gas alam, mineral, makanan laut, air segar yang luas. Norwegia juga penghasil minyak dan gas alam per kapita terbesar di luar Timur Tengah. Selain terkenal dengan olah raga Ski dan kesenangannya berjemur, orang Norwegia juga terkenal sebagai salah satu kelompok masyarakat yang paling baik hati di dunia. Jika anda tersesat di Norwegia, pasti akan ada yang menolong Anda. Ditambah lagi, mereka bisa berbahasa Inggris.
Sebelum awal abad ke-20, Norwegia merupakan bangsa miskin dengan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Namun, setelah memasuki awal abad- ke-20, Norwegia merupakan masyarakat berkembang dengan salah satu tingkat pendidikan tertinggi di Eropa. Ekspansi ilmu pengetahuan merupakan hal penting bagi pembangunan Norwegia moderen. Hingga saat ini, pengetahuan merupakan sumber daya terpenting bagi Norwegia. Hal ini terbukti dari catatan United Nations Development Programme (UNDP) yang merupakan badan PBB untuk masalah pembangunan seperti dikutip dalam situs BBC edisi 3 Nopember 2011, menunjukkan Norwegia menempati urutan teratas negara terbaik di dunia tahun ini didasarkan pada kriteria kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, yang dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sementara itu, dari 187 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat 124, jauh di bawah Brunei (posisi 33) dan Malaysia (posisi 61).
Norwegia mewajibkan setiap penduduk mengenyam 10 tahun dari pendidikan dasar dan Menengah semenjak anak berusia 6 tahun.  Materi yang diajarkan umumnya meliputi pengetahuan umum, budaya dan etika. Selanjutnya dilanjutkan dengan pendidikan menengah atas yang ditempuh selama 3 tahun dengan materi berimbang antara pengetahuan teoretis dan praktis. Pendidikan untuk semua umur merupakan konsep dasar dalam kebijakan pendidikan Norwegia. Dimanapun mereka tinggal, semua anak laki-laki dan perempuan memiliki hak sama untuk mengenyam pendidikan, tanpa memperhitungkan latar belakang sosial dan budaya dan kebutuhan akan perhatian khusus. Hal ini seperti dijelaskan oleh Asrori S. Karni (2008:103) dalam bukunya “Di balik buku terlaris dalam sejarah Indonesia: Laskar Pelangi the Phenomenon”, sistem pendidikan di Norwegia mengizinkan setiap anak untuk dididik di sekolah terdekat. Semua anak-anak belajar bersama, yang awas dan tunanetra, yang mendengar dan tunarungu, mempunyai keterbelakangan mental dan tidak. Jika seorang guru kelas membutuhkan bantuan bagi satu kelas atau lebih, hal ini akan ditawarkan melalui pemerintah.
Veronica Colondam dalam sebuah tulisan di kickandy.com menguraikan ada fenomena unik di Norwegia yaitu remaja yang putus sekolah memang memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Lanjut Colondam, ada dua alasan mereka "memilih" untuk tidak melanjutkan sekolah. Pertama, sebagian besar dari mereka ingin langsung bekerja. Artinya, jenjang pendidikan SMA dirasa tidak penting untuk mendapatkan pekerjaan seperti menjadi pelayan restoran, penjaga toko atau pekerjaan lain yang tidak terlalu butuh pendidikan tinggi. Hal kedua adalah fasilitas yang diberikan negara kepada rakyat yang tidak memiliki pekerjaan.
Sejak 2003, Norwegia mengikuti perjanjian Bologna untuk sistem pendidikan tinggi di Eropa. Pusat reformasi ini mengikuti sistem 3+2+3 yang terdiri dari 3 tahun pendidikan sarjana (bachelor), 2 tahun master dan 3 tahun Ph.D. Saat ini secara khusus pemerintah Norwegia mendorong pelajar untuk mengambil pendidikan di bidang matematika, sains dan teknologi.
Data statistik menunjukkan Norwegia memang surga bagi mahasiswa. Seperti dikutip dalam situs kaskus, selain karena iklim yang lebih beragam dan indah, hidup di sini juga mudah dan nyaman. Mudah karena sekolah murah sekali (biaya per semester untuk program master hanya sekitar Rp.600,000), transportasi publik yang sangat nyaman, teratur sebab jarang sekali terjadi kemacetan atau kecelakaan), dan tepat waktu, rasanya tidak perlu punya mobil sendiri. Di sini juga selalu ada pekerjaan (part-time atau full-time). Ketika kuliah, setiap bulan mereka akan menerima pinjaman tanpa bunga dari pemerintah sekitar Rp.16 juta  Kalau mereka berhasil lulus, hanya sekitar 60% dari total hutang saja yang perlu mereka bayar kembali kepada pemerintah.
Asep Mulyana yang menempuh satu semester di Norwegia untuk pendidikan S2 Ilmu Politik di sebuah suratkabar lokal di Jawa Barat menulis “biaya SPP yang harus saya bayar untuk menempuh program pascasarjana (S2) nilainya setara dengan Rp. 800 ribu saja. Itupun karena saya warga negara asing. Bandingkan dengan biaya SPP yang harus saya bayar untuk program yang sama di UGM. Di negeri sendiri, saya harus membayar SPP Rp 8 juta persemester”.
Memang benar biaya hidup di sana setinggi langit dan santunan senilai sekitar tiga puluh juta rupiah per bulan per orang, sebenarnya pas-pasan, cukup untuk makan dan tempat tinggal saja, tetapi gaji pekerja juga sangat tinggi (UMR Norwegia sekitar Rp 180.000,00 per jam). Norwegia juga sangat nyaman karena segala sesuatu diatur dan diurus dengan baik, sehingga kualitas hidup masyarakatnya pun baik. Kesadaran penduduknya akan kebersihan sudah sangat tinggi. Hampir tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan. Selain itu negeri ini sangat aman. Anda ketinggalan tas atau dompet di kereta api atau bus? Tenang, telpon saja perusahaan terkait, pasti mereka akan menemukan dan menyimpankan dompet Anda.


Tuesday, September 27, 2011

KELELAWAR, IKAN PAUS, DAN MANUSIA

Kelelawar adalah hewan sejenis burung, tapi tak sempurna keburungannya, burung yg lain bertelur,tapi kelelawar melahirkan.
Ikan paus adalah sejenis ikan, tp tak sempurna keikanannya,ikan lain brtelur,dia melahirkan.
Manusia terdiri dri pria dan wanita,tp ada manusia yg "kurang" sempurna kemanusiaannya, itulah manusia diantara pria dan wanita..
(yg tercatat d LTBI UNIMED dari Prof. Amrin Saragih)

Monday, July 18, 2011

PENDIDIKAN DI INDONESIA GAGAL?????????

Apakah pendidikan kita sudah sukses? Pertanyaan  ini dilontarkan oleh dosen pholosofi of language Dr. Didik Santosa, M. Pd. pada perkuliahan program pascsarjana UNIMED, dan Hampir seluruh mahasiswa yang hadir secara kompak menjawab, TIDAK. Kemudian masing-masig kami yang hadir menjelaskan pemikiran-pemikiran dan pengalaman yang terjadi kenapa kami menjawab tidak. Penyebabya guru, kata salah seorang mahasiswa. Apa yang salah dengan guru? Lanjut Dr. Didik. Argumen – argument yang dimunculkan pun beraagam. Guru hanya memiliki 2 dari 4 kompetensi dalam mengajar, sementara rekan yang lain menjawab yang salah pemerintah, setiap berganti menteri, kurikulum juga berganti, belum lagi guru harus dituntun menyiapkan RPP, silabus, prota, promes, sehingga kadang menjadi lupa tugas mengajar, sebab sibuk menyelesaikan pelengkapan mengajar, yang lain menjawab, karena gaji guru sedikit, apalagi yang disekolah swasta.
Semua diijnkan mengutarakan isi hatinya tentang pertnyaan ini, mungkin jika dipandang dari sudut pemerintah, ya pastinya pendidikan kita sudah melangkah sukses. Sebab dari Periode kedua program SBY, pendidikan menjadi prioritas utama, pariwisata, dsb, tapi apakah pendidikan maju, sesungguhnya hanya diletakkan pada prioritas utama tanpa ada pergerakan yang baik untuk mensukseskan. woaw...masing2 memberi koment. saya...hanya manggut2 saja dulu aghhhh...heheheheh

DOA KARAKTER

Sempat mikir agak lama juga nih, waktu dosen saya di pascasarjana LTBI Unimed bilang, kita harus merubah doa-doa kita dengan "doa karakter" agar membekas di hati. Kalau doa sapu jagat tu biasa, udah hapal, pastinya tidak membekas di hati dan tidak berubah..lantas apa itu doa karakter. Ternyata secara sederhana doa karakter diartikan mendoakan setiap karakter yang kita miliki:
ya Tuhanku, jadikan kami orang-orang yang masuk LTBI ini orang-orang yang rajin, mau mengerjakan tugas, mengumpulkan tepat pada waktunya, bukan orang-orang yang hanya datang untuk mengejar ijazah saja.
ya tuhan ku, jauhkan saya dari keterlambatan datang ke ruang kuliah.
ya tuhan ku, jangan biarkan saya terus-terusan menjadi guru yang malas belajar, agar saya dapat mengajar dan menjadi teladan dengan kerajinan saya dalam belajar bagi anak-anak didik kami....
....yang penting...
berdoalah dengan karakter2 buruk yang anda miliki, agar menjadi lebih baik, sehingga akan melahirkan energi positif yang sangat baik pula. semoga Allah mengabulkannya.
tapi tak perlu berdoa yang keras-keras, serta beramai-ramai, karena doa itu adalah keinginan hati, harapan terhadap apa yang dicitakan. dan tak perlu dipimpin..kata dosen saya itu...hmhmhmhmhmhhh

Thursday, December 23, 2010

SINETRON

CIRI KHAS SINTRON INDONESIA: MASIH ADAKAH YANG MENDIDIK?
Oleh : Muhammad Saufi Ginting, S. Pd.*
Sinema elektornik atau lebih popular dalam akronim sinteron  adalah istilah untuk drama sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televise. Dalam bahasa Inggris, Sinetron disebut soap opera (opera sabun), sedangan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela. Pada tahun 1990, atas usulan Rosihan Anwar dan Chriss Pattikawa, istilah sinteron yang saat itu telah merakyat dibuatkan rumusannya dengan pengertian “berbagai citra hidup (moving image) yang khusus dibuat (diproduksi) untuk penayangan televisi.
Pada saat itu, sinteron hanya ditayangkan oleh TVRI sebagai tayangan tutup tahun, yang merupakan sinteron lepas dengan durasi 120 menit selama sepekan tanpa iklan.  Di tengah keterpurukan film Indonesia, sinetron memperoleh sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Cerita keseharian yang diceritakan secara apik dan “like life” membuat semua orang memprediksi sinteronlah yang akan mampu menjadi tayangan mencerahkan dan bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Pasca reformasi 1998, peranan media massa menjadi lebih besar, khususnya televisi. Pemberitaan atau infomasi yang ditampilkan di televisi kadang tidak berimbang dengan bagaimana masyarakat menangkap infomasi tersebut dengan baik. Bahkan insdustri film sampai pada sinetron, dan juga iklan pun menampilkan aksi-aksi “kebebasan yang kebablasan”, demi keuntungan pribadi.
Sejak terjadinya kebebasan dalam berekspresi di dunia pertelevisian, beragam acarapun menjadi target mereka, yang penting rating sehingga menghasilkan kocek untuk menebalkan kantong para produser. Para pemilik modal yang merasa berhasil pada film-film dari tahun-tahun sebelumnya, masuk ke gelanggang sinteron. Apalagi, televisi swasta sudah bermunculan secara cepat. Maka lahirlah sinteron yang banyak menyedot penonton sehingga di garap dalam beberapa episod panjang.
Ciri Khas Sinetron Indonesia
Sejak saat itu, sinteron Indonesia mulai kehilangan citra estetik dan nuansa ke dalaman isinya. Sampai dengan hari ini, sinteron yang tampil dilayar televisi kita kurang mempunyai pesan moral yang baik. Berikut ini ciri khas sinteron Indonesia pada masa sekarang, yang penulis kutip dari situs www.bebekrewel.com, dengan beberapa point yang diedit seperlunya.
1.    Ada adegan menampar pacar atau istri yang dikira selingkuh. Padahal cuma ketemu teman lama. Terus menyewa orang untuk menyelidiki.
2.       Ada menangisnya. Hal ini paling mendominasi di setiap episode, dan banyak sekali yang mengajarkan balas dendam.
3.        Serinya dibikin panjang-panjang takut kehabisan bahan dengan alasan ratingnya naik. Padahal sudah membosankan.
4.        Biasanya ceritanya rebutan warisan atau warisannya jatuh pada anak atau cucu yang sudah lama hilang atau rebutan kekuasaan atau rebutan anak. Kalo adegannya masih sekolah hampir dipastikan ceritanya tentang rebutan pacar dan biasanya yang rebutan yang cewek dan tokoh yang disenangi si cowok anaknya miskin atau pas-pasan dan baru masuk atau pindahan dari sekolah lain (Tapi anehnya bisa masuk sekolah elite). Terus ada yang sudah merasa memiliki si cowok yaitu cewek yang kaya dan punya geng (Biasanya anak kepala yayasan).
5.        Orang kaya selalu menjadi tokoh yang jahat (Apa sudah tidak ada orang kaya yang baik?). Kalau pinjam utang selalu pada orang yang sama sampai akhirnya rumahnya disita dengan gampang?
6.        Tokoh yang baik biasanya melarat, lugu dan bodoh. Gampang dibohongin. Paling sering tokoh baik hampir tidak pernah minta tolong pengacara dan menang. Minta tolong polisi juga selalu gagal. Tapi giliran tokoh jahat minta bantuan polisi atau pengacara hampir dipastikan menang. Paling sering yaitu pengacara dengan gampangnya disuruh mengganti isi warisan dengan diberi imbalan uang banyak, hartanya dikuasai dan seisi rumah diusir.
7.        Tokoh yang baik biasanya lebih goblok dari tokoh yang jahat (Tokoh yang jahat idenya selalu cemerlang meski masih anak kecil sekalipun).
8.        Bila kisahnya sedih pemeran utama yang baik selalu menderita bertubi-tubi biar dikira mengharukan. Dimulai dengan bangkrut karena ditipu (memang seorang pengusaha yang sukses gampang percaya orang? Sama anak sendiri aja kadang tidak percaya apalagi orang lain). Terus dilanjutkan dengan jatuh sakit, mau berobat tidak punya duit. Cari kerja susah biasanya jadi kuli pasar. Tidurnya di emperan toko terus paginya diusir sama penjaganya. Biasanya mengalami kecelakaan terus menerus, kalau dipasangi jebakan selalu masuk. Habis itu ditolong oleh temannya yang tidak tahu darimana datangnya.
9.        Dimanapun tokohnya bersembunyi atau mengasingkan diri, selalu ditemukan tokoh jahatnya. Sepertinya wilayah indonesia cuma sebesar perumahan.
10.    Kebanyakan kalau ceritanya mau selesai, selalu ada saja halangan. Entah jadi lumpuh dan tidak bisa ngomong, tertabrak mobil terus koma, habis tertabrak mobil mau sembuh kemudian jatuh dari tangga atau kebetulan disandera oleh penculik atau naik bis ketiduran terus nyampai di mana tidak tahu dan tidak punya ongkos pulang. Dilanjutkan dengan kisah cari duit buat makan dan ongkos tapi kenalan dengan pemuda baik dan dilanjutkan dengan jatuh cinta (Ceritanya semakin ngawur saja).
11.    Penyakit yang sering adalah kanker otak, TBC (Biasanya kalau batuk-batuk terus di tissuenya ada darah). Penyakit paling baru dan yang lagi ngetren di sinetron yaitu: Akibat jatuh atau dengar berita jadi kaget atau kecelakaan terus jadi stroke + lumpuh yang menyebabkan jalan cerita nggak jadi selesai (Kenyataannya, hal seperti itu sangat jarang terjadi. Paling-paling patah tulang).
12.    Tidak ada yang menceritakan keluarga yang harmonis.
13.    Bintangnya banyak menggunakan artis Indo (Maksudnya blasteran sama bule biar cakep padahal akting pas-pasan). Lebih tidak masuk akal lagi pemeran yang berwajah Indo bisa menjadi tokoh gelandangan. Dengan alasan mau total dalam berakting (Dalam kenyataan pasti sudah diperkosa dan jadi bulan-bulanan preman jalanan).
14.    Pemeran utama berwajah sangat cantik kadang jadi pembantu.
15.    Kalau berantem sesama laki-laki sampai luka-luka tidak ngerasa sakit. Tapi giliran dipegang sama pacarnya teriak-teriak kesakitan.
16.    Cerita anak orang kaya punya pacar orang miskin masih banyak. Biasanya ditentang oleh salah satu orangtuanya dan orang tua yang satu membela.
Selain itu, ucapan-ucapan kotor, celaan, pakaian minim seperti kekurangan bahan, pelukan antar lawan jenis, dan sebagainya sering kita dengar dan lihat melalui sinetron yang sehari-hari tayang di televisi. Padahal menurut UU Penyiaran tahun 2002 pasal 36 tentang isi siaran “dilarang menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang”, Selanjutnya menurut UU Informatika dan Transaksi Elektronik Tahun 2008 pasal 26 menyatakan “ dilarang menyebarkan informasi elektronik yang bermuatan pornografi, pornoaksi atau tindakan kekerasan melalui komputer ataupun sistem elektronik”.
Sinetron yang Mendidik?
Contoh yang dapat kita jadikan studi kasus adalah novel yang di buat sebuah film (selain film-film atau reality show bertema cinta dan mistis lain yang telah banyak beredar dan menjadi pujaan) kemudian dibuat sinteronnya, akhirnya menjadi trendsetter bahwa saat ini yang dibutuhkan manusia adalah film bernuansa agama. Demi keuntungan pribadi segelintir orang, kemudian dibuatlah beberapa sinetron bernuansa agama dengan alasan mampu menggugah nuansa pesinetronan selama ini. 
Namun pada kenyataanya, sinetron yang laris manis ketika di tayangkan ditelevisi karena bernuansa agama (baca: islam) ini, hanya mencoreng kesakralan dalam beragama. Masih ingat sinteron Sakinah? Yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta pada bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu? Sinetron yang banyak digandrungi ibu-ibu sampai remaja, karena ingin melihat lebih jauh dan lebih mengenal bagaimana sebenarnya kehidupan orang-orang yang menjalankan agama dengan sebenar-benarnya. Tetapi materi yang disajikan malah prilaku yang kurang begitu mendidik dan tidak mencerminkan orang-orang yang dekat dengan agama.  Sifat iri, dengki, tamak, dendam dan penyakit hati lainnya malah lebih ditonjolkan dalam sinetron ini. Tak hanya itu, pernikahan yang sangat diagungkan dan merupakan kewajiban bagi orang yang beragama (islam), hanya dianggap sebagai pemuas dan pemanis saja.
Kawin cerai yang ditunjukkan pemeran utamanya “Sakinah” yang notebene adalah seorang wanita sholeha membuat siapapun yang memahami arti pernikahan sebenarnya dalam hidup nyata membuat hati miris dan terinjak-injak. Padahal dalam Al Qur’an jelas-jelas Allah menyatakan akan melindungi siapapun yang menjalankan agama dengan sesungguh hati.
Penutup
Televisi sesungguhnya dapat memberikan informasi dari seluruh dunia kepada orang dimanapun berada. Tetapi sayangnya kebanyakan siaran-siaran yang dipertontonkan penyedia layanan dan penyedia hiburan hanya mementingkan kebutuhan pribadi mereka ketimbang memikirkan bagaimana pengaruh buruk televisi terhadap pendidikan masyarakat, khususnya  kejiwaan anak yang merupakan masa depan bangsa.
Wetherington memberi contoh mengenai fakta asuhan yang diberikan kepada anak kembar yang diasuh di lingkungan yang berbeda. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa ada perbedaan antara keduanya sebagai hasil pengaruh lingkungan, yang satu baik dan satu lagi menjadi buruk. Selanjutnya, ia mengutip hasil penelitian Newman tentang adanya perbedaan dalam lingkungan sosial dan pendidikan menghasilkan perbedaan-perbedaan yang tak dapat disangkal. Dengan demikian rumah (keluarga) yang baik dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang penting dalam pertumbuhan kejiwaan.
Sinetron yang ditayangkan menjadi konsumsi yang mudah bagi setiap keluarga, apalagi dengan jam tayang yang sesuai dengan jam keluarga sedang beristirahat. Bagi orang-orang yang mampu memilah dan memilih tayangan, akan mendampingi anak-anak mereka dan memberikan nasehat akan maksud sinetron yang ditonton, atau bahkan tidak ditonton sama sekali. Tetapi bagi orang-orang yang kurang pandai memilih, maka ini akan menjadi tontonan yang sangat menarik dan baru. Pertanyaanya, apakah setiap orang tua mampu menjaga dan mendampingi anak-anaknya menonton televisi? Atau apakah orang tua semuanya adalah orang-orang yang berpendidikan?

                                                                        *Penulis adalah pendidik