Friday, November 16, 2012

HIZBUL WATHAN ASAHAN


SEJARAH DAN SEJARAH KEBANGKITAN KEMBALI HIZBUL WATHAN (HW)


Pada suatu hari (Ahad) KH. Ahmad Dahlan memanggil beberapa guru Muhammadiyah: Bapak Somodirdjo (Mantri Guru Standart School Suronatan), Bapak Syarbini dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari Sekolah Muhammadiyah Kota Gede.
KH. Ahmad Dahlan berkata kira-kira demikian:
“Saya tadi pagi di Solo sepulang dari Tabligh sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun Surakarta melihat anak-anak baris-berbaris, sebagian bermain-main, semuanya berpakaian seragam, baik sekali! Apa itu??”.
Bapak Somodirjo menjelaskan bahwa itu adalah Pandu Mangkunegaran yang namanya JPO (Javaanche Padvinderij Organisatie) ialah suatu gerakan pendidikan anak-anak diluar sekolah dan rumah.
Mendengar keterangan tersebut KH. Ahmad Dahlan menyambut:
“Alangkah baiknya kalau anak-anak keluarga Muhammadiyah juga dididik semacam itu untuk  menghamba kepada Allah” Selanjutnya beliau mengharap kepada para guru untuk mencontoh gerakan pendidikan itu”.
            Itulah sekelumit percakapan sebagai dasar mendirikan gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW). Tahun 1918 adalah saat Gerakan Hizbul wathan melangkahkan langkahnya yang pertama dengan nama Padvinder Muhammadiyah. Nama tersebut semakin populer. Untuk pengawasan Gerakan padvinder Muhammadiyah ini diserahkan kepada Muhammadiyah bagian sekolahan. Oleh Muhammadiyah bagian sekolahan tersebut dibentuklah pengurus
Untuk memajukan gerakan tersebut, diadakan studi ke JPO Solo. Sepulang dari kunjungan ke JPO Solo tersebut dibicarakan nama dari Padvinder Muhammadiyah. Di rumah Bapak H. Hilal Kauman. RH. Hadjid mengajukan nama yang dianggap cocok pada waktu itu yaitu HIZBUL WATHAN, yang berarti Pembela Tanah Air. Hal ini mengingat adanya pergolakan-pergolakan di luar negeri maupun di dalam negeri yaitu masa berjuang melawan penjajah Belanda.
Nama HIZBUL WATHAN sendiri berasal dari nama kesatuan tentara Mesir yang sedang berperang membela tanah airnya. Dengan kata sepakat nama HIZBUL WATHAN dipakai mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah“ tahun 1920.
Pesatnya kemajuan HW rupanya mendapat perhatian dari NIPV (perkumpulan kepanduan Hindia belanda sebagai cabang dari kepanduan di Negeri Belanda (NPV)). Pada waktu itu gerakan kepanduan yang mendapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam NIPV tersebut.
Namun, pada tahun 1943, kepanduan HW bersama dengan kepanduan lainnya dibubarkan oleh pemerintahan Jepang. Kemudian, dengan segala upaya pada tanggal 29 Januari 1950 Hizbul Wathan bangkit kembali dengan perubahan-perubahan. Tapi sungguh sayang pada tanggal 9 Maret 1961, berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor: 238/61, kepanduan HW dan kepanduanlainnya dilebur ke dalam Pramuka.
Setelah tertidur lama, pada tanggal 10 Syah’ban 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1999 M, Kepanduan HW dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan surat keputusan No: 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 M. dan dipertegas dengan surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 10/KEP/I.O/B/2003 M.
Dibangkitkannya kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan oleh Persyarikatan Muhammadiyah bukan tanpa alasan. Semangat kebangkitan kembali ini telah lama terpèndam, bahkan gaungnya sudah muncul sejak Muktamar Muhammadiyah di Surabaya (1980), di Solo (1985), di Yogyakarta dengan visualisasi pawai alegoris Pandu HW (1990), hingga bergaung pula ketika Muktamar di Aceh (1995).
HIZBUL WATHAN KWARDA ASAHAN
Di Kisaran- Kabupaten Asahan, HW pertama berdiri kembali pada tahun 2006, yaitu dengan mendirikan satuan penghela atau qabilah yang berpangkalan di SMA Muhammadiyah 8 Kisaran tepatnya pada tanggal 11 Ramadhan 1427 H atau tanggal 3 Oktober 2006. Qabilah ini berdiri tanpa punya wilayah, sebab untuk wilayah PWM. Sumatera Utara masih sangat embrio.
Hasil diterbitkanya SK Qabilah Mapan (Muhammadiyah 8), membuat gelisah Kwarda Asahan. Tidak mungkin berjalan sendiri, maka Kwarda Asahan diantaranya Ramanda ketua Sugiran SL dan Sekretarisnya H. Aznal AS., serta beberapa anggota diantaranya Zainal Abidin AR didorong oleh pengurus Qabilah Mapan yang baru dilantik saat itu berusaha untuk bertemu dengan Ramanda Nurdin Mislan yang mendapat tugas atau penerima amanah untuk menyusun kepengurusan Kwarwil di Sumatera Utara dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.
Beberapa kali mereka pergi dan pulang bertemu Ramanda Nurdin Mislan. Akhirnya terbentuklah Kawarwil Hizbul Wathan Sumatera Utara pada bulan Juni 2007 di Kampus UMSU Jl. Mukhtar Basri yang dilantik oleh Pimpinan Pusat Hizbul Wathan.
Kawarda Asahan sendiri ditetapkan dengan SK. No. 03/SK.Kwarwil-02/A.VII/2007 tanggal 18 Dzulhijjah 1428 H atau 28 Desember 2008 M oleh Kwarwil Sumut dengan ketuanya adalah Ramanda Sobry Zulham. Pada tanggal 23 Maret 2012 yang lalu Kwarda HW. Asahan baru saja melaksanakan Musyda I, dan terpilih sebagai ketua adalah M. Ilham Surya Lubis, S.Ag.

No comments: