Thursday, January 19, 2012

SEJARAH MUHAMMADIYAH ASAHAN (BAGIAN 1)

Berikut penulis kutipkan sejarah Muhammadiyah Kabupaten Asahan yang diambil dari buku Profil Muhammadiyah Daerah Asahan. Kisaran, tahun 2009 diterbitkan oleh PDM. Asahan dan penyusunan bukunya diketuai oleh sesepuh Muhammadiyah Asahan H. Sahmuda Sagala.  Penulis Muhammad Saufi Ginting, juga merupakan salah satu tim penyusunnya.  

1. Muhammadiyah Masuk ke Bumi Asahan
a. Sekilas tentang Daerah Asahan
Daerah Asahan yang dibicarakan disini adalah daerah Asahan sebelum kemerdekaan Negara Republik Indonesia, Asahan tempo doeloe. Sebelum kolonial Belanda masuk ke Sumatera Timur, di Asahan telah ada pemerintahan yaitu Kesultanan Asahan yang beragama Islam. Sultan Asahan pada awalnya berkedudukan di Bandar Pulau, di hulu Sei Asahan. Sultannya yang pertama adalah Raja Simargolang (1607-1636). Selain kesultanan Asahan, terdapat kerajaan kecil yaitu kerajaan Batubara berkedudukan di Limalaras yang diperintah seorang Datuk.
Kesultanan Asahan akhirnya pindah ke Tanjungbalai, muara Sei Asahan, dan sultan pertama di Tanjungbalai bernama Abdul Jalil. Sultan Abdul Jalil ini berdarah Aceh, keturunan Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka memerintah turun temurun sampai pada penjajahan Belanda masuk ke Asahan dan Tanjungbalai.
Kota Tanjungbalai berkembang pesat, setelah pelabuhan Teluk Nibung dibuka. Akhirnya kota Tanjungbalai di tetapkan menjadi Gemente Tanjung Balai (Kota Tanjungbalai) dengan Besluit Gubernur General tanggal 27 Juni 1917 No. 13 (StbL 1917 No. 224). Dengan demikian, sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, terdapat dua penguasa terhadap masyarakat Asahan, yaitu:
a.         Kesultanan Asahan, beragama Islam yang disebut Belanda Self Bestuer (Semacam penguasa otonom); dan,
b.        Pemerintahan penjajahan Belanda.
Di tengah suasana seperti itulah persyarikatan Muhammadiyah masuk ke Bumi Asahan.

b. Kisaran, Persemaian Pertama
Setelah Belanda masuk ke Asahan, mereka membangun perkebunan besar di daerah ini. Selain Belanda, bangsa Eropa lainnya juga diizinkan turut membangun perkebunan, pusat-pusat perkebunan itu dibangun di sebelah barat Tanjungbalai yang memang subur dan luas. Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah perkebunan itu mereka peroleh dari Sultan Asahan.
Kota Kisaran yang terletak di pinggir Sei Silau di barat kota Tanjungbalai tumbuh menjadi pemukiman dan perdagangan. Sebagai kota dagang, Kisaran banyak didatangi dan didiami para perantau, seperti dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan.
1. Jam’iyatur Rahmah, Benih Pertama Muhammadiyah
Para perantau Minang dari Sumatera Barat yang tinggal menetap dan berusaha di Kisaran, sebelumnya telah menerima paham pembaharuan Islam yang sudah lama tumbuh di Sumatera Barat, keluarga merekapun sudah memasuki persyarikatan Muhammadiyah di Sumatera Barat, yang sudah berdiri lebih dahulu yakni sejak tahun 1925. Oleh karena itu, sewaktu mereka menetap di Kisaran, mereka mendirikan perkumpulan tempat mereka mengaji, mempelajari agama Islam dengan prinsip pembaharuan itu. Nama wadah perkumpulan itu ialah “Jam’iyatur Rahmah,” sesuai petunjuk KH. Ahmad Dahlan, agar di daerah yang sulit mendirikan Muhammadiyah supaya di pakai nama lain. Perkumpulan ini didirikan tahun 1925 yang disponsori Bapak Lurah Marah Sulaiman dan Bapak Rajo Ambun, berasal dari Maninjau-Sumatera Barat (Tahun 1925 itu pula Muhammadiyah berdiri di Maninjau- Sumatera Barat). Tahun 1926 Jam’iyatur Rahmah memperoleh sebidang tanah di Krapatan Straat No. 63 (Jl. KH. Ahmad Dahlan sekarang ini). Di atas tanah tersebut didirikan Madrasah. Disinialah mereka mengaji pada hari-hari senggang merekadari kesibukan berusaha-berdagang.
2. Jam’iyatur Rahmah Menjadi Persyarikatan Muhammadiyah
Seperti disebut di atas para perantau minang dari Sumatera Barat itu telah mengenal bahkan menganut paham pembaharuan Islam bahkan keluarga mereka sudah menjadi pendukung Muhammadiyah. Mudah dipahami kalau pengurus dan anggota Jam’iyatur Rahmah di Kisaran itu sudah menganut paham pembaharuan Islam. Tentang mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, tinggal menunggu saat yang tepat.
Saat yang dinantikan tiba. Di Medan, tepatnya Jl. Nagapatam No. 44 yang dikenal dengan Kampung Keling telah berdiri Muhammadiyah yang selanjutnya pada tangga 25 Nopember 1927 resmi berdiri menjadi Cabang Muhammadiyah Medan. Sponsor mendirikan Muhammadiyah di Kampung Keling itu ialah Bapak Udin ST. Baheramsyah. Pengurus terasnya antara lain: HR. Muhammad Said (Ketua), Maspono Sastro (Sekretaris). Pengurus dan muballigh Muhammadiyah Medan bekerja keras menyiarkan dan meluaskan dakwah Muhammadiyah. Ternyata gaungnya sampai pula ke Kisaran-Bumi Asahan, 160 KM di Selatan kota Medan, disambut oleh pengurus dan Jamaah Jam’iyatur Rahmah.
Setelah ada komunikasi dengan Muhammadiyah Medan, pengurus dan jama’ah Jam’iyatur Rahmah akhirnya sepakat dan menerima: “Melebur Jam’iyatur Rahmah dan seluruh asetnya ke dalam persyarikatan Muhammadiyah” pada hari senin tanggal 21 Jumadil Awal 1347 H bertepatan dengan tanggal 23 Desember 1929. Secara resmi berdirilah persyarikatan Muhammadiyah di Kisaran-Bumi Asahan, yang pertama di Kesultanan Asahan. Muhammadiyah Kisaran pada mulanya bestatus group (ranting) bercabang ke Muhammadiyah Medan. Karena Muhammadiyah Kisaran berkembang pesat, tanggal 27 Maret 1930 Hoof Bestur (PB) Muhammadiyah Yogyakarta merubah statusnya menjadi Cabang Muhammadiyah Kisaran dengan SK No. 390/1930.
3. Dari Kisaran, Muhammadiyah Disebarkan Keberbagai Daerah
            Muhammadiyah Kisaran pada awal berdirinya dipimpin Bapak Sutan Ibrahim sebagai ketua. Beliau dengan anggota pimpinan lainnya bekerja keras meluaskan sayap da’wah Islam Persyarikatan Muhammadiyah. Sampai tahun lima puluhan, dari Kisaran telah dapat didirikan organisasi Muhammadiyah seperti:
1.    Muhammadiyah Tanjung Balai didirikan tanggal 12 Oktober 1930. Tokoh sponsornya antara lain: Bapak Abdullah Umar, TM. Jafar, A. Azhari, R. Busu Alam, A. Rahman Pawiro, M. Nawi Sahlan, H. Husin Mahmud, SD. Nasir. Pengurusnya antara lain: Abdullah Umar (Ketua),  M. Nawi Sahlan (Sekretaris), dan dibantu oleh A. Azhari, R. Busu Alam, A. Rahman Pawiro, H. Husin Mahmud, SD. Nasir.
2.    Dari Tanjung Balai atas bantuan Muhammadiyah Cabang Kisaran berdirilah: (1) Ranting Muhammadiyah Air Joman, (2) Ranting Muhammadiyah Pematang Tengah, (3) Ranting Muhammadiyah Bagan Asahan.
3.    Muhammadiyah Indrapura (Batubara) berdiri tanggal 16 Juni 1931. Pelopornya antara lain: Bapak OK. M. Idris, Rahmat, dan Marah Sainun. Muhammadiyah Indrapura disahkan oleh HB. Muhammadiyah dengan Beskut No. 896/CB tanggal 2 Juli 1941.
4.    Muhammadiyah Tg. Tiram (Batubara) resmi berdiri tanggal 27 Nopember 1932 yang diprakarsai Muhammadiyah Kisaran.
5.    Ranting Muhammadiyah Lubuk Gajah di Air Joman berdiri tahun 1946 yang didirakan bekerja sama antara Muhammadiyah Kisaran dan Tanjung Balai.
6.    Ranting Muhammadiyah Aek Loba. Sponsornya Bapak Zakaria, Abdul Manaf, Tapanuli Siregar (Tafsir), Lobe Amat, Amat Kusen, Selamat Wiharyo, H.M. Yusuf, Surif dan M. Salim. Besluit Pendiriannya diterbitkan PP Muhammadiyah tanggal 20 Juni 1950 No. 31 (Statbbat No. 25).
7.    Ranting Muhammadiyah Bandar Jawa. Diresmikan tanggal 8 Nopember 1950. Pengurusnya yang pertama Bapak Abu Bakar, H.M. Noor, H. Abdul Rahman. Besluit penetapannya dari PP Muhammadiyah diterbitkan tanggal 10 Juni 1953 No. 1182B.
8.    Pengembangan Ke Luar Asahan.
a. Muhammadiyah Aek Kanopan Kabupaten Labuhan Batu
Muhammadiyah Aek Kanopan berdiri tanggal 20 Maret 1933. Pelopornya Bapak SD. M. lyas, Marah Zainun, SD. Pamuncak, HA. Karim Thaib. Muhammadiyah Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu. Didirikan tanggal 21 Agustus 1932. Pelopornya Bapak A. Manan Malik, AH. Zein Butar-Butar, SD. M. Ilyas, SD. Bab yatim. Pada Agresi Belanda II tahun 1948 di Rantau Perapat di bentuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sumatera Timur Selatan, yang dipimpin Bapak M. Yunan Nasution, A. Manan Malik, L. ST. Sati, AH. Zein Butar-Butar, Yahya Pintor, dan lain-lain.      
 b. Muhammadiyah Marbau
Kabupaten Labuhan Batu didirikan tanggal 27 Agustus 1933. Sponsornya Bapak D. Pawiro yang wafat tahun 1952 setelah ditangkap dan dipenjarakan Belanda tahun 1948.
c. Muhammadiyah Kerasaan
Simalungun berdiri tanggal 5 Maret 1930 tokohnya Bapak Abdul Majid, Ahmad S. Damanik, M. Zain, Bidul, Abdul Hadi, Panangaran, dan lain-lain.
d. Muhammadiyah Ujung Padang, Simalungun; Belakangan tidak Aktif.
e. Muhammadiyah Pulahan Cina
Muhammadiyah ditempat ini disponsori oleh Bapak Sutan Salim, ketua Muhammadiyah Cabang Kisaran. Muhammadiyah di tempat ini resmi berdiri tanggal 25 Juni 1955.
Inilah sekelumit kiprah Muhammadiyah Cabang Kisaran dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah, baik di daerah Asahan Maupun di luar Kabupaten Asahan, khususnya Kabupaten Labuhan Batu dan Simalungun. 

3.  Peran Muhammadiyah dalam Menegakkan, Membela Kemerdekaan Indonesia di Asahan
            Seperti telah disebutkan, Muhammadiyah di Asahan pertama kali tumbuh di Kisaran. Muhammadiyah Cabang Kisaran tumbuh dan berkembang pesat termasuk dalam bidang amal usaha. Sebelum kemerdekaan Muhammadiyah Cabang Kisaran telah memiliki gedung pendidikan yang terletak Jl. Krapatan/ Krapatan Straat No. 63- Jl. Kh. Ahmad Dahlan sekarang ini.
Gedung sekolah itulah yang dijadikan tempat rapat pertama dan rapat-rapat berikutnya dalam menyambut, menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Kisaran – Kabupaten Asahan. Kegiatan itu antara lain:
a.       Tanggal 4 Oktober 1945. Rapat pertama diadakan di lantai atas Madrasah Muhammadiyah, yang memutuskan antara lain:
-          Membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) sebagai pemeritahan sementara, diketuai Bapak  Gouse Utama. Beberapa bulan kemudian KNI diketuai oleh Bapak Daud Ahmad dari Muhammadiyah.
-          Membentuk barisan Pemuda yang diketuai Bapak Kusman dari Taman Siswa Kisaran, Komandan Barisannya Bapak Muhidin.
b.      Tanggal 6 Oktober 1945. Melakukan rapat umum penaikan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya. Bertempat di Jl. Sultan Husin Syah, Straat No.349 (atau Jl. Imam Bonjol Sekrang ini). Di depan lokasi Pajak Inpres Kisaran, yang sebelumnya merupakan stasiun bus.
c.       Setelah persitiwa tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya, di Kisaran segera dilakukan rapat umum menggalang persatuan kesatuan, bertempat di lapangan bola sukaria yang terletak sebelah timur kantor pos Kisaran; sekarang komplek perumahan staff PT. BSP Kisaran. Pada waktu itu berbicara seorang Mubballigh dan orator Muhammadiyah Bapak A.H. Zein Butar. Beliau berhasil membakar semangat rakyat pengunjung dan mengumpul sumbangan material yang cukup besar untuk dana perjuangan lasyakar di Kisaran.
d.      Pada masa pergolakan/perang kemerdekaan Madrasah Muhammadiyah di Jl. KH. Ahmad Dahlan dijadikan tempat rapat-rapat kaum republikan-lasykar dalam mengatur dan menetapkan strategi dan taktik perjuangan atau perlawanan rakyat. Demikian sekelumit peran sejarah Muhammadiyah Cabang Kisaran. Peran sejarah itu masih melekat pada perjalanan lanjutannya sampai penumpasan G.30.S/PKI tahun 1965, dan tegaknya pemerintahan orde baru. Dari Muhammadiyah Cabang Kisaran pengembangan Muhammadiyah tetap berlajut di Asahan merambah ke berbagai kecamatan, seperti: Bandar Pulau; Pulau Rakyat; Meranti; Lima Puluh; dan Buntu Pane. Untuk itu layaklah disebut di sini peran tokoh-tokoh Muhammadiyah Kisaran antara lain Bapak Anas Murakaf, Dahlan Idris, Alimuddin Islami, Ali Oesman, ST. A. Gafar. Tulisan berikutnya adalah membicarakan perkembangan Muhammadiyah menjelang G.30.S/PKI tahun 1965 sampai pembentukan daerah Muhammadiyah Kabupaten Asahan.

3 comments:

Saufi G (LITERASI ASAHAN) said...

ditunggu selanjutnya

Unknown said...

Ijin pak, bisa minta no telfon yang bisa saya hubungi

Saufi Ginting said...

kosong delapan 52 enam 101 satu 68 delapan