Monday, November 29, 2010

CERPEN: DUA TAHUN


DUA TAHUN
Oleh : M. Saufi Ginting

         Malam kian meninggi, bintang dan bulan telah hilang dari peredaran malam yang indah dan sunyi. Setelah kuselesaikan Qiyamul Lail ku, dengan mengenakan kaos dan hanya memakai sarung serta ditemani segelas air putih yang akan kuminum sedikit demi sedikit jika tenggorakan dan bibirku terasa kering, kuhidupkan laptop yang baru kupinjam dari temanku kemarin, alasanku meminjam untuk menyelesaikan skripsiku, untunglah ia tak banyak tanya dan langsung memberikan saja kepadaku.
         Walau tidak punya komputer bahkan laptop, aku mengerti sedikit-sedikit mengoperasaikan komputer dan memperbaikinya jika ada kerusakan, dan kebetulan pula, teman kuliahku Andi, buta tentang perbaikan barang-barang elektroniknya jika ada kerusakan, tentu saja ia menyerahkannya kepadaku, karena kataku tidak perlu dibayar dengan uang, cukup dengan kompensasi aku boleh meminjamnya kapan saja aku butuh. Terlalu naif mungkin, tapi apa boleh buat di zaman seperti ini, segala cara harus ditempuh, yang penting halal lagi toyyib, itulah istilahku dalam menyikapi hidupku.

Tik..tak..tik...tak...tek..tek aku mulai mengetikan satu demi satu kata di dalam laptop yang malam ini menjadi punyaku.

Ini mulai dari biasa dan kebersamaan, perjuangan menuju kebenaran
Dan memautkan sedikit rasa dan bimbang yang menelangsa
Hingga tercipta dalam otakku membayangkan istri sholeha laiknya kamu
Yang telah sedikit kukenal dalam perjuangan dan kebersamaan
Yang bersahaja capai kebenaran ; dan aku terpatri
Terlalu munafik rasanya jika aku memiliki keinginan untuk menjadikan sebagai istriku,
Angan dan khayal membual dalam fikiran,
Dan tak paham, aku …
Demi Allah …! (maaf Allah... Untuk sesuatu yang tak pantas kucipta di hati)
Aku menekan perasaan-perasaan yang membuai
Agar aku tak tertekan,
Membualkan dirimu dalam-dalam
Entahlah... aku coba mengikis asa dan rasa menghadirkan khayalanku;
Tentang engkau.
Maaf ku Allah!
Duh.. entah mengapa aku merangkai kata-kata yang mungkin orang menyebutnya puisi, tapi aku menilainya sebagai puisi tak bijak, yang seharusnya tak pantas ku ketikkan. Tapi kubaca lagi perlahan, aku sendiri bingung, kok aku merasa puisiku ini begitu indah ya? Tapi mungkin itulah ungkapan hatiku. Kata orang, siapa saja bisa mengungkapkan perasaannya dengan cara apapun, dengan siapa atau apapun. Entah indah atau tidak, entah seperti pujangga atau tidak, jika suatu hari ada yang tak sengaja membaca kemudian mengapresiasinya, aku hanya bisa ucapkan Alhamdulillah. Tapi setidaknya puisi yang baru kuketikkan ini telah mewakili risau hatiku, kemudian dalam hati ku berfikir sambil jariku mengarahkan cursor kembali ke atas puisi ku tadi, lalu kuketikkan judul ” UNTUK SAUDARI SEPERJUANGAN, HANYA MELUAH ASA”.
***
            ”Assalamu’alaikum... Wo....gimana udah ada yang ku minta kemaren tu?” kudengar suara sapaan dari ruang ”kantor dakwah” kami ketika aku baru saja masuk pintu pagar menuju Mesjid yang  memang kantor tersebut berada di ruang sebelah timur Masjid, sebenarnya ruang nazir masjid sih.
"Wa’alaikumsalam Warahmatullah..ahh...belum lagi kuletakkan tasku ini bah, kau sudah menagih janji? Kataku seraya menyunggingkan senyum yang tak begitu manis, tapi setidaknya aku bisa bersedekah di hari ahad yang cerah ini. ”ini!" Sembari tanganku menyerahkan selembar kertas hasil coretan tanganku kepadanya.
Mugi pun mengambil dengan senyum yang mengisyaratkan betapa semangatnya saudaraku satu ini untuk kebaikan dan memperjuangkan yang terbaik. ”Lho kok Cuma segini wo? kan waktu kemaren katanya ketuo yang bilang lebih dari duapelima orang.? Ni kok cuma sembilan belas orang yang dari tetangga uo tu?” kata Mugi bagitu ia membaca dan melihat jumlah nomor yang tertera pada kertas yang baru saja kuberikan padanya.
”Ia, sisanya entar ya bis dhuha, dan pengajian setelah itu kita rapat kan lagi. Udah dhuha Gi?
”Ups...!!” Katanya, kemudian berlari kecil ke ruang wudhu.
Rupanya Mugi sudah sampai lebih dahulu dari pada aku. Seperti biasa setiap Ahad pagi, kami memang mengadakan pengajian rutin untuk mengisi dan memompa rohani kami yang diikuti oleh seluruh anggota. Aku jadi malu, seharusnya sebagai ketua, yang pertama kali datang adalah aku, ini aku kalah dengan sekretarisku Mugi. Dan memang tak salah dia menjadi sekretarisku, setiap pekerjaan yang ditanganinya semua beres, tak ada sikap diktator sebagai pimpinan yang terjadi, karena dia mampu mengarahkan rekan-rekan lainnya untuk sama-sama bekerja dan bekerja sama. Dan mampu menempatkan dirinya sebagai sekretaris yang layak. Ini pulalah salah satu faktor yang menjadikan semangat kekeluargaan di dalam organisasi kami begitu kental. Aku pun sebagai pemimpin mereka, berusaha untuk yang terbaik serta mencontoh yang baik pula.
Tak lama, masihpun belum kami menyelesaikan sholat dhuha, saudara-saudara yang lain datang, sebelum memulai pengajian, semua telah melakukan sholat dhuha, ada yang mengerjakannya di rumah dan ada pula di mesjid ini. Begitulah tradisi yang kami contoh dari Rasulullah Muhammad SAW dan coba dibangun setiap saat dalam organisasi kami ini.
Pengajian kali ini di isi oleh Pak Sahmuda, sengaja kami undang karena memang materi pengajian hari ini adalah seputar organisasi, dan beliau sangat terkenal dengan kepiawaiannya dalam memimpin dimanapun dia berada. Pengajian segera kami mulai begitu Pak Sahmuda datang. Materi yang disampaikan sangat menarik dan penuh dengan referensi dari Al Qur’an tentang bagaimana berorganisasi yang baik, menghargai, bekerja sama serta menghormati keputusan. Tak lama moderator yang kali ini dibawakan adik kami Yudi, salah seorang siswa berprestasi dari SMA Muhammadiyah 8 Kisaran yang juga sebagai pengurus harian, meminta kepada peserta pengajian untuk bertanya dalam sesi diskusi tanya jawab. ”Setelah paparan yang disampaikan oleh Bapak guru kita tadi, saya kira semakin banyak ilmu kita yang kiranya tak cukup, untuk itu dipersilahkan kepada kawan-kawan untuk bertanya tentang materi atau yang mau melenceng banyak-sikit dari materi yang telah disampaikan guru kita tadi!”.
”Memang pantas kawan-kawan yang lain bilang Yudi merupakan kandidat kuat ketua umum PD. IPM kelak” ucapku dalam hati, setelah kuperhatikan dari tadi, sejak pertama kali ia mendapat tugas untuk menjadi moderator pada pengajian ahad ini. Bahasa yang digunakan olehnya begitu mengena walaupun ia masih siswa kelas 2 SMA. Memang sudah menjadi tradisi di setiap pengajian kami, yang menjadi moderator dalam setiap kegiatan, baik sepekan sekali seperti pengajian ini, atau setiap hari dalam pertemuan formal, maka yang menjadi moderator ataupun pembawa acara harus silih berganti mulai dari kawan-kawan yang masih duduk di bangku SMP, SMA, bahkan yang sudah kuliahpun mendapat giliran. Ini kami lakukan untuk melatih keberanian  berinteraksi dengan kawan-kawan yang lain ataupun masyarakat dalam hal berbicara di depan umum.
Tepat di sudut ruangan masjid tempat kami menimba ilmu, saudariku yang berjilbab besar dan berwarna ungu mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa ia akan bertanya. Pertanyaan yang terlontarpun begitu teratur dan perlahan sembari seolah mengisyaratkan kepada adik-adik lainnya supaya bersiap untuk menjadi penanya selanjutnya. Kami semua tahu bahwa saudariku ini merupakan salah seorang yang sangat aktif berjibaku dengan waktu, menyusur rindu-rindu dalam perjuangan kami, demi tertibnya belajar, ibadah dan organisasi kami.
Ku coba konsentrasi dengan jawaban disampaikan oleh pak Sahmuda atas pertanyaan yang berikan oleh saudari kami tadi, ”Ya Allah, selamatkanlah hati ini dari kekacauan yang tak sanggup ku menjaganya, hanya pada Mu ku bermohon” dalam hatiku berdo’a. Entah mengapa aku kehilangan konsentrasiku dan malah merubah perhatian terhadap saudariku yang baru saja memberikan pertanyaan, walau aku hanya melihatnya dengan sudut ekor mataku.  ”Astaghfirullah”! Ucapku dalam hati.
Aku mengenal saudariku ini sejak kami sama-sama mengenal IPM, dan itu sudah cukup lama, dan sebagai manusia biasa aku tak dapat memungkiri perasaaan-perasaanku. ”Aghh....”
***
Dengan berjuta perasaan yang tak kuasa kubendung, sebelum kepergian saudariku kembali ke kampung halaman setelah selesai menyelesaikan kuliah, dan mewujudkan rindu dunianya, ku kirim dengan SMS melalui HP ku yang tak secanggih punya anak-anak muda zaman sekarang bisa kirim SMS pakai voice mail atau bisa internetan sejumlah kata yang menurutku sebuah puisi, sebagai janjiku padanya dan Allah.

 
SAJAK DUA TAHUN

Ini aku …
Aku yang meluluhkan hatimu
Ya ini aku..
Datang dan sambutlah
Karena Tuhanmu dan Tuhanku
Aku datang

Dan ini memang aku
Jiwaku, ragaku telah kupersiapkan
Untuk sebuah rumah taqwa
Dan jundi-jundi yang sholeh-sholeha
Juga untuk melindungi dan membimbingmu
Menjadi bidadari Syurgaku
Dan kita sama-sama membina

Ya ini aku
Niatku karena Allah
Menyempurnakan setengah dien kita
Melahirkan generasi pembela
Sholeh dan sholeha
Dalam sebuah rumah taqwa

Mari...mari sayang
Ini...kupersembahkan
Dan ijabmu terkabullah
Kau untukku selamanya

**
Terima kasih Allah, Bantu hambamu mengejar syurgaMu dengan ridhoMu dan ridho orang tua kami.
Dikenangan IRM berjaya..semoga pada syurga. 

(Cerpen ini merupakan Juara Harapan pada Lomba Cerpen HUT WASPADA 2010)

No comments: