Monday, April 2, 2012

SINERGI PERAN DIKDASMEN, LOYALITAS GURU DAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH MUHAMMADIYAH



Tulisan ini merupakan sari dari pengajian Ranting Muhammadiyah Kisaran-Kabupaten Asahan yang saya ikuti pada Jum’at malam tanggal 20 Mei 2011 di rumah bapak Seno, di Gedangan. Materi malam itu adalah tentang PHI WM dalam Amal Usaha Muhammadiyah. Alhamdulillah diterima di Majalah Suara Muhammadiyah edisi 12/Th-ke 96. 16-30 Mei 2011. Tulisan diedit oleh redaksi seperti gambar. Yang saya kirim seperti di bawah ini. Selamat membaca.

SINERGI PERAN DIKDASMEN, LOYALITAS GURU DAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH MUHAMMADIYAH
Oleh: Muhammad Saufi Ginting
“Kalau dikaji dari segi potensi ekonomi, Muhammadiyah mirip dengan raksasa tidur. Memiliki potensi amat besar, tetapi potensi itu belum diaktualisasi menjadi sesuatu yang memiliki manfaat optimal. Betapa tidak, aset Muhammadiyah se-Indonesia kalau dihitung akan merupakan asset terbanyak yang dimilki oleh ormas Islam di Indonesia” (lihat SM No. 09/TH.Ke-96, 1-15 Mei 2011 halaman 6). 
AUM khususnya dalam jasa pelayanan pendidikan memang terbukti sangat banyak, akan tetapi kesemuanya itu perlu dikelola secara profesional. Sebab amal usaha menjadi bagian yang penting dalam dakwah Muhammadiyah. Jadi kalau mati Amal usaha kita, maka dakwah kita akan mati. Berbicara tentang dakwah itu ada pada amal shalihnya, dalam amal shalih terlihat dakwah yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Orang non islam pun merasa simpatik bukan dari ceramah kita, tapi dari kemampuan kita berdakwah, sebab islam dapat menunjukkan aksi sosialnya dikala masyarakat membutuhkan pertolongan.
AUM khususnya dalam jasa pelayanan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar menengah dikelola oleh Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (DIKDASMEN). Amal usaha Muhammadiyah dalam lingkup Kabupaten/Kota berada dalam wilayah kerja Majlis Dikdasmen Daerah. Kenyataan di lapangan masih kita temukan, bagaimana Majlis Dikdasmen daerah masih menjalankan fungsinya hanya sebatas mengelola secara “sederhana” tanpa ada program yang jelas dalam aplikasinya. Salah satu misalnya adalah penggajian guru yang kurang sejahtera dan kadang melewati batas tanggal gajian. Padahal, bagi kita orang muslim, “membayar keringat sebelum kering” adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan, dan sedikit banyaknya hal ini bisa menjadi salah motivasi bagi guru untuk bekerja lebih baik lagi jika dilakukan.
Berdasarkan kenyataan ini, Drs. M. Akhyar memberikan masukan agar dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah khususnya yang dikelola oleh Majlis Dikdasamen dapat berperan sepenuh hati dalam menyampaikan dakwahnya. Adapun poin-poin yang menjadi harapan beliau adalah: (1) Uang sekolah yang dikutip dari siswa mutlak digunakan untuk kepentingan guru dan siswa, pembangunan sekolah cari yang lain, (2) Pegawai-pegawai di perguruan Muhammadiyah yang mengaji di Ranting-ranting punya gaji berbeda dengan mereka yang tidak, masa kerja dibedakan, pengabdian yang dibedakan, karena mereka bekerja di Muhammadiyah juga berinfaq di Muhammadiyah dalam pengajian, dan (3) Penggajian yang adil dan transparan, hal ini dapat dilakukan dengan bekerjasama melalui  Bank Muamalat. Jadi para guru bisa gajian setiap tanggal 1 setiap bulannya, tidak lagi menjadi tanggal 46. Hal ini dapat dilakukan sebab pengutipan uang tetap tepat waktu, sehingga menjadi profesional. Kalau perlu setiap guru Muhammadiyah mengambil gajinya hanya melalui ATM saja.
Memang dalam aplikasi program kerja, Majlis Dikdasmen daerah yang berada di Jawa berbeda dengan yang di Sumatera, apalagi Majlis Dikdasmen Daerah Asahan misalnya sangat jauh berbeda dengan Majlis Dikdasamen kota Medan. Akan tetapi masukan ini ideal rasanya, khususnya di Asahan. Hendaknya unsur pengurus Majlis Dikdasmen yang notabene-nya adalah tombak utama dalam menghasilkan kader Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang berbasis di sekolah, adalah orang-orang yang dengan sangat serius mementingkan kepentingan para guru dan siswa.
Loyalitas Guru
            “Jangan tanya apa yang sudah diberikan Negara kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah engkau berikan kepada Negara” adalah kutipan yang sudah tak asing lagi bagi kita. Akan tetapi, tuntulah guru Muhammadiyah juga harus bertanya bagaimana prinsip dalam Muhammadiyah menjadikan mereka hidup lebih layak. Sebab, kebanyakan guru yang mengajar di Muhammadiyah adalah guru swasta murni. Dari sekian banyak guru swasta murni, hanya beberapa orang saja yang mempunyai penghasilan mengajar di luar di Muhammadiyah. Sisanya, mereka mengajar mulai dari MI, SMP, MTs, SMA, SMK, MA-nya Muhammadiyah. Mulai dari mengajar mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmunya, sampai pada mata pelajaran yang bahkan dia sendiri kurang begitu menguasainya.
Walaupun demikian masih saja belum terasa mencukupi kebutuhan keluarga. Salah satu penyebab ketidakcukupan ini adalah “potongan”. Para guru diwajibkan membayar Uang Infaq Guru (UIG) yang langsung dipotong sekian persen dari gaji, belum lagi potongan-potongan kemalangan, melahirkan, dan lain sebagainya. Hingga kalau ditotal-total, di lima tempat mereka mengajar di Muhammadiyah, potongan bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Hal ini belum termasuk, misalnya jika Muhammadiyah atau Ortom-ortom melaksanakan Musycab, Musyda, dan kegiatan lain sebagainya, maka guru-guru Muhammadiyah harus menjadi korban, dengan dalih “mengajar di Muhammadiyah adalah ladang amal”. Padahal Muktamar yang lalu sudah melatih kita tentang kemandirian, tanpa meminta bantuan pihak di luar Muhammadiyah dalam hal kebutuhan dana untuk mensukseskan muktamar.
            Setelah kelelahan mengajar di sekian banyak jenjang sekolah di Muhammadiyah, akhirnya gaji yang diterima tak lebih cukup hanya mampu membayar cicilan kredit sepeda motor. Malah dalam bahasa di Kisaran adalah istilah “ya lepas makanlah, tapi tidak cukup untuk minum, jadinya keselek (tersedak)”. Ada pula contoh kasus lain yang nyata juga terjadi. Seorang guru berprestasi tapi tak diberdayakan, malah dibuang, padahal sudah jauh-jauh sampai ke Jepang, dikirim atas nama sekolah Muhammadiyah, tapi tak direkrut untuk menjadi anggota Muhammadiyah dan dipertahankan untuk mengajar, malah jamnya di kurangi, dan menghilang.
Hal ini seharusnya menjadi pemikiran serta sesegera mungkin menjadi tindakan bagi Majlis Dikdasmen hari ini dan ke depan, bagaimana para guru yang mengajar di Muhammadiyah dapat memliki loyalitas mengajar yang tinggi. Kalau perlu, dari mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi, mengajarnya di perguruan Muhammadiyah, tetap bersemangat dan dengan perasaan penuh cinta dalam memberikan ilmunya secara sepenuh hati kepada siswa-siswanya.
Mutu Pendidikan Muhammadiyah
Proses belajar mengajar merupakan proses yang sistemik, artinya proses yang dilakukan oleh guru dan siswa di tempat belajar dengan melibatkan sub-sub, bagian-bagian, komponen-komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai satu tujuan (Yamin, 2009: 59). Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa, dalam proses belajar dan mengajar banyak yang harus terlibat untuk mencapai tujuan, yaitu meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah yang profesional. Sehingga tidak ada lagi pandangan bahwa sekolah Muhammadiyah merupakan sekolah alternatif, sebab tidak lulus di sekolah Negeri, dari pada tidak sekolah, ya pilih Muhammadiyah. Lebih ironis lagi bila pandangan ini berasal dalam pemikiran para orang tua yang merupakan anggota dan pengurus Muhammadiyah. Buktinya, hanya sedikit para pengurus Muhammadiyah yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Muhammadiyah. Dengan dalih “kurang berkualitas”. Secara pribadi, jika kita berbicara mutu pendidikan di Muhammadiyah, saya setuju pasti jauh berbeda antara sekolah Muhammadiyah di Jawa dengan yang di Sumatera. Sebab di Jogjakarta misalnya, para guru hidup dengan sejahtera, dan sekolah Muhammadiyah bukan lagi sekolah alternatif.
Untuk itu, Majlis Dikdasmen baik dari tingkat pusat sampai cabang harus mensinergikan perannya dalam mengelola amal usaha  Muhammadiyah agar menjadi lebih baik dan profesional. Bila perlu, sebagai reward kepada guru-guru yang berprestasi tinggi, apalagi guru dari kalangan Muhammadiyah di-haji-kan minimal 1 orang dalam satu tahun. Sehingga sampai matipun, mereka akan syahid ketika berdiri mengajar di Muhammadiyah. Jangan hanya menjelang milad-milad Muhammadiyah saja baru diberikan reward itupun masih belum seberapa untuk ukuran mereka yang sudah mengabdi puluhan tahun di Muhammadiyah.
Otomatis jawaban dari pertanyaan murid KH. Ahmad Dahlan (lihat film Sang Pencerah) ketika ditanya apakah mereka dapat gaji saat akan mendirikan sekolah Muhammadiyah “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” dalam konteks kekinian menjadi terwujud, sebab para guru sudah hidup dengan sejahtera. Dan mutu pendidikan di Muhammadiyah pun semakin menjadi idola.
*Penulis adalah alumni SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. 





No comments: